Diposkan pada Puisi

Pita dan Sebuah Kartu

Seusai salat Jumat di masjid, turun dan lagi-lagi sendiri. Tidak ada satu mushola pun yang mampu memikat para lelaki. "Yang tersisa dari rasa lelah adalah keriuhan." katanya. Ingin segera melahap nasi dan mie goreng ini agar lekas kembali ke mesin jahit dan waktu pulang ditabuh. Saat sampai rumah, ingin kencing dan poop sepuasnya tanpa membuat tubuh makin bobrok dengan pita di leher dan sebuah kartu. Dia tetap tak mau mengakui kesalahan, terus salat untuk dirinya. Kini, salat pun bahkan (dihitung) diawasi. Jika tak patuh, bersua om-om tampan itu dan seperti Petruk dan kata-kata tentang pembakaran, aku mungkin ditendang dari perkumpulan dan saban dina dikutuk ibu di peraduan hijau ini.


Maguwo, 17 September 2021



*Puisi untuk mengenang adanya peraturan baru di pabrik di mana salat dan pergi ke WC harus memakai sebuah pita khusus yang dikalungkan di leher dan jumlahnya sangat sedikit
Gambar ini walau jelek tapi hasil gambar sendiri via iBisPaint

Penulis:

Lahir dan tinggal di Temanggung, Jawa Tengah. Buku puisi pertama saya, "Lelaki yang Bernyanyi Ketika Pesawat Melintas" - Tidar Media 2020. Menyukai anime dan idol selain game online, menyanyi, menggambar anime dan tidur siang.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s