Diposkan pada Puisi

Setangkai Hujan dan Tangan-tangan Petir

Ada setangkai hujan dan tangan-tangan petir saat setiap wanita mencari ibu; (perjalanan) pergi ke antah berantah, uang kayu dan seperti biasa mengencani batu-bata. Tidak seperti aku ini, namanya tidak tertulis jadi Pak Soni telanjang di kamarku dan sepasang kolibri mulai mengepakkan sayapnya untuk mencari liang paling tak diharap. Aku melumat bukit legam itu saat tubuh Pak Soni makin merah—mengejang dan menusukku dengan kasih yang sungguh, nafasku putus. Setelah nyeri lambung makin tak terkendali dan dada menjadi satu, anak-anak berlari di kerongkonganku menuju kematian dan tak pernah terpilih. Iqamah, tubuhku memang telah mandi tapi hati ini lengket. Aku pasti menjelangimu bersama Pak Soni.

Maguwo, 21 September 2021

Penulis:

Lahir dan tinggal di Temanggung, Jawa Tengah. Buku puisi pertama saya, "Lelaki yang Bernyanyi Ketika Pesawat Melintas" - Tidar Media 2020. Menyukai anime dan idol selain game online, menyanyi, menggambar anime dan tidur siang.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s