Diposkan pada Puisi

Perdu yang Tumbuh di Antara Percakapan

Kita memesan dua gelas penuh puting akar dan berselancar di dunia maya sampai dunia itu menggulung kita sampai ke tengah imaji. Tergulung pula olehnya arah pulang dan dingin malam yang membekukan jalan-jalan dan orang yang rampung dari seharian bekerja atau sepasang rindu—pengangguran seperti aku ini. Kendang terus diputar, dan aku semakin tak kesurupan. Kebisingan adalah perdu yang tumbuh di antara percakapan. Dunia tidak lagi mengekang saat nama tak tertulis dan Pak Soni pagi ini telah ada di dalam kamarku. Di antara Pak Soni dan segelas puting akar ini, manakah yang akan membuat tubuhku lebih membara? Aku tak peduli pada apapun tak jua seorang urban yang (mendadak) cinta Jakarta.

Maguwo, 22 September 2021

Penulis:

Lahir dan tinggal di Temanggung, Jawa Tengah. Buku puisi pertama saya, "Lelaki yang Bernyanyi Ketika Pesawat Melintas" - Tidar Media 2020. Menyukai anime dan idol selain game online, menyanyi, menggambar anime dan tidur siang.

7 tanggapan untuk “Perdu yang Tumbuh di Antara Percakapan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s