Posted in Cerita Pendek, Cerpen, Cinta, Family, Keluarga, Love, Novel, Tak Berkategori

Bintang Part 6 : Pulang Kampung


Di teras lantai dua, Adit duduk santai sembari asik memandangi sebuah gambar di handphonenya. Gina yang melihat mendekat hati-hati, kedua tanggannya ia angkat ke atas hingga berada tepat di atas pundak Adit dan bersiap mengagetkan Adit.

Belum sempat ia mengejutkan Adit, ia di buat terkejut setelah melihat gambar di hp Adit. Gambar itu berasal dari masa lalu, orang yang ia kenal sekaligus benci dan orang yang sangat di cintai Adit.

Gina langsung murka, ia merebut handphone itu lalu seketika membantingnya ke lantai hingga hancur.
“Jadi kamu masih simpan foto orang itu?” tanya Gina.

“Ini gak seperti apa yang kamu lihat.” jawab Adit.

“Alah. Mengaku sajalah.”

“Terserah kamu. Yang pasti ini benar-benar tidak seperti apa yang kamu lihat dan pikirkan. Aku mencintai kamu, cukuplah Dewi sebagai buktinya. Mirna hanya masa lalu, dan aku hanya ingat tentang anaknya, anakku, anak kami.” kata Adit.
Adit pun berlalu meninggalkan Gina sendirian disana, mendengar kata terakhir Adit, Gina menyesal dengan apa yang telah ia lakukan. Imbas dari kejadian itu, Adit seperti menjauhi Gina. Semuanya berubah seketika.
⭐⭐⭐
Pagi itu…
Sepiring nasi goreng yang masih mengepul berada di meja makan, Adit tak menyentuhnya sama sekali, bahkan melirik saja pun tidak. Ia hanya menimati segelas susu, mencium kening Dewi lalu pergi meninggalkan semuanya.
“Kamu gak makan, Dit?” tanya Gina.
Adit tak menjawab bertanyaan Gina seolah tiada orang yang bicara, ia terus saja berjalan menuju pintu.

Gina berlari mengejar Adit, meraih tangannya dan kini mereka saling berhadapan.
“Aku tahu aku salah, aku minta maaf, aku hanya… aku hanya gak mau kehilangan kamu.” kata Gina terbata sembari memeluk Adit.

“Aku minta maaf.” tambah Gina.

“Aku juga minta maaf, mungkin gak seharusnya aku kaya gini sama kamu.” kata Adit.
Dewi yang melihat hal itu merasa aneh, tidal biasanya mereka drama-drama seperti sekarang ini. Dia pun menghampiri ayah dan bundanya.
“Ini ada apa sih?” tanya Dewi penasaran.

“Gak ada apa-apa sayang. Sini sini ikut pelukan.” kata Adit.
Mereka bertiga pun berpelukan, segala sesuatunya kembali seperti semula.
“Carilah anak itu, Dit.” bisik Gina.

“Baik.”
⭐⭐⭐
Malam harinya…
Sebelum pulang dari kantor, Adit memberitahukan sebuah pengumuman.

Semuanya berkumpul di aula kantor ‘Aditya Home Design’.
“Ok semuanya. Jadi mulai mulai senin besok, kantor kita libur satu minggu.”
Terdengar sorak gembira di ruangan itu,
“Saya sudah menyiapkan paket liburan untuk kalian pergi ke Jogja. So, enjoy your holiday!” tambah Adit.
“Yesss!”

“Wiiih, Jogja cuy.”

“Malioboro.”

“Parang tritis.” celetuk para karyawan bergantian.

“Saya gak ikut liburan ya, Pak. Saya mau pulang kampung saja.” kata Bintang.

“Ya, Bin. Terserah kamu. Tapi kalau kamu berubah pikiran, bilang sama saya.” kata Adit.

“Iya, Pak.”

“Yah… kok gak ikut, Bin. Ini liburan perdana kamu bareng kita lho.” kata salah satu rekan kerjanya.

“Maaf bang, habisnya sudah lama gak jenguk abah. Mungkin next time.” kata Bintang.
⭐⭐⭐
Sebelum pulang, Adit menyempatkan mampir ke toko buku langganannya. Disana melihat beberapa buku keluaran terbaru. Di sebuah pojok ruangan ia melihat seseorang wanita yang tak asing di mata meski ia tak mengenalnya, wanita itu adalah seseorang yang selalu bersama Mirna. Selama ini Adit telah bertanya pada karyawan kantornya yang mengenal Mirna, tapi hasilnya nihil. Adit tahu bahwa Mirna pulang ke kampung halamannya, tapi nama kampung dan dimama letaknya ia tak pernah tahu.

Wanita itu pun berbalik menatap Adit yang sedari tadi melihatnya, lalu seketika ia menutupi wajahnya dengan buku yang tengah ia baca.

Adit mendekati wanita itu,
“Kamu temannya Mirna kan?” tanya Adit.

“I… iya.” jawab wanita itu terbata dan pasrah.

“Kamu tahu dimana kampung Mirna?” tanya Adit lagi.

“Maaf, kata Mirna saya gak boleh ngasih tahu ke siapapun.” jawabnya.

“Saya mohon, ini penting. Saya harus mencari anak saya, saya harus memastikan bahwa ia baik-baik saja. Hanya itu yang saya ingin tahu.” kata Adit.
Mendengar kata ‘Anak’, timbul pertanyaan-pertanyaan di hati wanita itu.
“Bagaimana jika aku berada di posisi lelaki ini? Bagaimana jika aku yang kehilangan anak? Akankah aku tetap tak mau memberitahukan keberadaanya? Setega itukah aku?”
Pada akhirnya wanita itu memberitahukan keberadaan Mirna.

Advertisements
Posted in Cerita Pendek, Cerpen, Cinta, Family, Keluarga, Love, Novel, Tak Berkategori

Bintang Part 4 : Bintang Arya Aditya

Waktu berlalu begitu cepat, Mirna memasuki usia ke sembilan bulan kehamilannya, dan tentu saja hal tersebut menjadi omongan tetangga.
“Apa-apaan mereka itu, selalu saja membicarakan kita.”

“Sudah atuh kang, biarkan wae atuh. Nanti juga capek sendiri.” kata Mirna.

“Gak bisa gitu atuh neng, mereka teh, gak bisa di biarkab begitu wae. Kudu di hadapi.”  ucap Asep lagi.

“Aduh… aduh kang, perut aku sakit.” rintih Mirna.

“Kenapa atuh neng? mau keluar bayinya?” tanya Asep.

“Aduh… sakit kang.”

“Iya, iya, akang panggil dokter dulu.” kata Asep.
Asep pun berlari ke rumah salah seorang bidan di kampungnya, beberapa saat kemudian mereka pun sampai.
Sedari tadi Asep hanya mondar-mandir kesana-kemari, ia sangat cemas menunggu di luar kamar. Sampai akhirnya, tangisan bayi itu terdengar.
“Alkhamdulillah ya Allah… aku jadi ayah.” ucap Asep dengan riangnya.
Asep pun masuk ke dalam kamar, nampak Mirna yang terbaring lemah serta seorang bayi laki-laki yang di peluknya.
“Kang, makasih untuk semuanya. Makasih karena akang sudah mau menerima aku apa adanya. Kang, aku punya permintaan. Tolong rawatlah bayi ini seperti anak akang sendiri, sayangi dan cintai dia kang.” ucap Mirna lirih sembari memengang erat tangan Asep serta air mata yang berlinang.

“Neng teh ngomong apa? kita besarkan bayi ini sama-sama.” kata Asep.
Mirna hanya tersenyum, senyuman itu hanya sekilas saja lalu menghilang. Pegangan tangan yang erat terasa di tangan Asep itu kini tiada erat lagi, kedua mata Mirna menutup, serta bayi di sampingnya itu menangis keras. Mirna pergi di saat yang bahagia, di saat ia telah melahirkan anak ke dunia.
“Neng, neng…!!!” teriak Asep.
Asep memeluk tubuh Mirna untuk terakhir kalinya, air matanya tak terbendung lagi.
                              ⭐⭐⭐
Sepeninggal Mirna, Asep mengurus bayinya bersama ibunya yang kini tinggal di rumahnya.
“Mau di kasih nama siapa anak ini?” tanya sang ibu.

“Ehmmm…”
Asep mengingat saat malam itu, saat dimana ia duduk berdua dengan Mirna di teras depan rumah.
“Neng, kalau sudah lahir, mau di kasih nama siapa anak ini?” tanya Asep.

“Bintang Arya Aditya.” jawab Mirna mantap.

“Kenapa harus ada Bintangnya?” tanya Asep lagi.

“Aku berharap ia menjadi bintang yang bersinar di gelapnya malam, di sana.” jawab Mirna sambil menujuk ke arah bintang yang bertaburan di langit malam.

“Aku ingin dia bersinar seperti…”

“Seperti apa neng?” tanya Asep.

“Ayahnya.” jawab Mirna dalam hati.

“Akh, enggak kang. Lupakan saja.” jawab Mirna sambil tersenyum.
“Bintang Arya Aditya” jawab Asep.
Selesai.

Posted in Cerita Pendek, Cerpen, Cinta, Family, Keluarga, Love, Novel, Tak Berkategori

Bintang Part 3 : Cinta Akan Datang Sendiri


Mirna duduk di sebuah bangku di taman, Adit pun menghampirinya.
“Ada apa kamu suruh aku kesini?” tanya Adit.

“Aku sudah memutuskan, aku akan tinggal di kampung.” kata Mirna.

“Kenapa? bukankah kita akan menikah?” tanya Adit lagi.

“Aku gak bisa, aku gak bisa berbahagia sementara orang lain terluka karena kebahagiaanku. Aku mencintai kamu, tapi aku tak ingin cinta ini menyakiti orang lain.” jawab Mirna.

“Dit, menikahlah dengan Gina, dia sangat mencintai kamu.” kata Mirna lagi.
Mirna pun memeluk Adit, pelukan yang mungkin adalah pelukan yang terakhir kali. Lalu Mirna berjalan menjauhi Adit, akan tetapi Adit berlari mengejarnya dan memeluknya dari belakang.
“Kamu gak bisa kaya gini, kamu gak bisa tinggalin aku begitu saja. Aku mencintai kamu memang belum lama, tapi cinta itu tulus, cinta itu murni.” kata Adit sambil terus memeluk Mirna.
Mirna melepas tangan yang melingkar di perutnya itu, lalu berbalik dan memegangi wajah Adit dengan kedua tangannya. Di tataplah Adit, walau sebenarnya hal ini akan membuatnya semakin sulit melupakan Adit.
“Dit, cinta itu tak hanya berbentuk memiliki, aku tahu kamu pasti tahu maksudku.”

“Aku pergi dulu.” kata Mirna.

 

                               ⭐⭐⭐
Beberapa bulan kemudian…
Di depan cermin, mereka saling di dandani. Gina terlihat sangat cantik dengan menggunakan gaun putih panjang itu. Adit pun begitu, ia semakin terlihat tampan lagi ketika memakai kemeja putih di balut dasi serta jas hitam itu.

Hari ini adalah hari tepat di mana di langsungkannya pernikahan Adit dan Gina. Senyuman menghiasi wajah Gina, karena hari bahagia itu telah tiba. Adit juga terlihat selalu tersenyum, namun bukannya senyum yang sebenarnya, melainkan senyuman palsu. Dalam hatinya ia resah, sejak pertemuan di taman itu ia tak pernah lagi bertemu dengan Mirna.
“Kamu apa kabar, Mir?” tanya Adit dalam hati.
Sementara itu, Mirna tengah berada di teras rumahnya di kampung. Berdiri melihat angin yang menghembus pohon-pohon di depan rumahnya.
“Kamu apa kabar, Dit? apakah kamu bahagia disana?” tanya Mirna dalam hati.
Lalu suara langkah kaki dari belakang terdengar mendekat.
“Neng, masuk yuk! di luar dingin ieu teh.” ajak lelaki itu.

“Iya, kang.” jawab Mirna.
Sepulangnya Mirna ke kampung, ia di lamar oleh Asep, yang tak lain adalah sahabatnya sendiri. Asep tergerak hatinya untuk menikahi Mirna setelah mendengar cerita Mirna. Semuanya terjadi begitu saja, dan pada akhirnya Mirna lah yang harus mengalah dan meninggalkan Adit.

Kini ia mencoba mencintai Asep, walau itu mungkin takkan mudah. “Cinta akan tumbuh sendiri saat dua hati disatukan dalam sebuah ikatan. ” begitu pikirnya.
Selesai.

Posted in Cerita Pendek, Cerpen, Cinta, Love, Novel, Tak Berkategori

Bintang Part 2 : Dilanda Dilema


Cahaya mentari masuk melalui jendela rumah itu, dingin yang sedari tadi ia rasakan, kini semakin menjadi. Adit terbangun dari tidurnya dan tersadar bahwa ia telanjang bulat saat ini. Ia setengah mengingingat kejadian tadi malam.

Di pakailah kemeja dan celana Adit, lalu ia mencari Mirna. Mirna di dinding dekat pintu masuk, kakinya ia peluk. Ia terisak bukan main saat tersadar apa yang telah di lakukan dengan Adit tadi malam. Air mata tak henti mengalir  dari matanya. Sampai pada akhirnya datanglah Adit yang menepuk pundaknya.
“Kamu tenang aja Mir, aku pasti tanggung jawab.” kata Adit mantap.
Mendengar kata itu air mata Mirna justru semakin mengalir dengan derasnya. Ia teringat pada kejadian beberapa hari lalu di kantornya, saat tak sengaja seorang karyawan menabrak seorang perempuan cantik.
“Maaf Mbak, saya gak sengaja.” kata karyawan itu.

“Ok, gak apa-apa kok.” kata dia ramah.

“Btw, Mbak ini karyawan baru ya? saya belum pernah liat.” tanya karyawan itu.

“Perkenalkan, nama saya Gina, calon tunangannya Adit.” kata Gina dengan senyum lebar.

“Wah, calon bos. Maaf banget ya, mbak. Sekali lagi…” kata karyawan itu sembari menjabat tangan Gina.
Gina pun kembali tersenyum.
                            ⭐⭐⭐
Tak seperti biasanya, Mirna kini lebih sering terlihat murung dan sedih. Dalam hatinya ada rasa takut, ia takut bila ia akan hamil.

Icha, teman sekantornya menghampiri Mirna.
“Mir, nanti pulang kantor kamu kemana? ada acara gak? kita jalan yuk!” kata Icha.
Mirna hanya terdiam, seolah tiada orang yang mengajaknya bicara.
“Mir!?” panggil Icha sembari menepuk pundak Mirna.
Mirna pun tersadar dari lamunannya,
“Eh! kamu Cha, ada apa?” tanya Mirna.

“Mir, kamu gak biasanya kaya gini, kamu kenapa? sakit?” Icha justru balik bertanya.

“Nggak kok…” jawab Mirna.
Baru saja Mirna mengatakan bahwa ia baik-baik saja, akan tetapi kini tubuhnya bergetar hebat, ada sesuatu dari perutnya yang memaksa keluar. Mirna berlari menuju ke kamar mandi di susul dengan Icha yang mengikutinya.

Di kamar mandi Ia langsung muntah-muntah.
“Mir, kamu masuk angin ya?” tanya Icha.

“Gak tau nih.” jawab Mirna.

“Atau…”

“Kamu hamil ya!”
Entah kenapa Mirna tak asing mendengar kata itu, jantungnya berdegub kencang tak beraturan, perasaan takut itu kini kembali menyelimutinya.
                           ⭐⭐⭐
Sebelum semua orang di kantor pulang, Adit sempat memberikan sebuah pengumuman pada mereka.

Saat itu Adit meraih tangan Mirna lalu membawanya ke depan.
“Kami akan bertunangan. Secepatnya.” kata Adit.
Semua orang di sana tercengang mendengarnya, diam antara banyaknya gadis cantik yang mengaguminya, mengapa Adit bisa memilih Mirna yang hanya bawahannya? pikir mereka. sunyi sempat menghiasi atmosfer kantor saat itu walau sesaat. Sampai pada akhirnya, suara tepuk tangan memecah kesunyian itu.

Lalu semua orang bergantian memberi selamat pada keduanya.

Hingga perhatian mereka tersita pada bunyi sesuatu yang jatuh. Di belakang sana, seseorang menjatuhkan cangkir berisi teh panasnya.
“Gina.” kata Mirna dalam hati.
Ia terkejut mendengar pernyataan Adit yang barusan. Tak kuasa, air matanya pun mengalir.

Gina pun berlalu begitu saja, membawa kesedihan yang tak tertahankan lagi.

Mirna merasa bersalah atas ini semua, saat ini ia tengah dilanda dilema. Antara senang karena Adit mau nenikahinya dan sakit melihat seseorang kehilangan orang yang paling di cintainya memilih orang lain.
Selesai.