Posted in Cerita Pendek, Cerpen, Cinta, Family, Keluarga, Love, Teman

Kau Tak Sendiri

Restoran di pinggiran kota Bandung itu cukup ramai ketika menjelang berbuka puasa.
Fatah duduk di kursi nomor 12 di lantai satu yang dekat dengan jendela yang langsung menghadap ke jalan raya.
Ia memang sengaja memilih meja di dekat jendela agar bisa bebas melihat hilir-mudik sibuknya kota ini. Atau sekedar membunuh sepi, karena tidak seperti pengunjung yang lainnya yang datang dengan pacar atau keluarganya, saat ini ia memang sendirian.
Seorang pramusaji datang dengan membawa makanan pesanan Fatah serta seutas senyum yang terlukis di wajahnya. Setelah itu ia berlenggang pergi begitu saja.

Fatah melihat pada jam dinding, di sana waktu menunjukan pukul 17:50, “Kurang sepuluh menit lagi.” ucap Fatah.

Namun sepuluh menit yang ia nantikan terasa sangatlah lama. Detik demi detik dihitungnya, jam dinding itu terus ia perhatikan.
Dan tentu saja karena hal bodoh itu waktu justru terasa lebih lama lagi.
Ia mulai bosan dengan semua ini, akhirnya ia memalingkan pandangan ke arah jendela, ke arah jalanan yang sibuk nan ramai itu.
Ia terkesiap, tepat di depannya sudah ada seorang anak berpakaian lusuh yang tengah memandangi makanan yang masih mengepul di meja. Parahnya ia menatapnya tanpa berkedip.
Fatah merasa iba padanya, barang kali ia adalah salah satu anak yang sering meminta-minta di lampu merah yang sering Fatah lihat.
Fatah kemudian berdiri dan berjalan keluar menuju ke anak itu, sampai ia sampai di luar, anak kecil itu masih melakukan hal yang sama yakni memandangi makanan di meja.
Fatah menepuk pundaknnya hati-hati, akan tetapi ia tetap terkesiap.

“Maaf kalau saya mengagetkan, kamu. “ucap Fatah lirih.
Anak itu justru bersiap hendak lari, namun dengan sigap Fatah memegangi tangannya.
“Saya yang minta maaf. Sekarang, toling lepaskan saya.” ucap anak kecil itu.
Fatah memegang kedua pundaknya, ia memutarnya hingga kini mereka saling berhadapan, “Kamu teh kenapa kok lihat makanan saya gitu banget?” tanya Fatah penasaran.

Tapi ia justru menangis tersedu-sedu, Fatah berpikir itu karena ia terlalu erat memegangi pundak anak kecil itu atau nada bicaranya terlampau tinggi.

“Maaf, a’. Maaf.” ucap anak kecil itu seraya menyeka air matanya.
“Tidak apa-apa. Sekarang, jawab pertanayaan saya, ya.” ucap Fatah lirih.
“Saya cuma ingat sama emak saya di rumah. Sama seperti saya, dia juga belum makan selama dua hari ini.” jawabnya dengan sesengguk-sengguk.

Adzan mahrib pun menggema, namun Fatah tak sesemangat tadi saya ia berencana akan balas dendam.
Mendengar cerita anak itu membuat hati Fatah tergerak untuk berbaik hati dan bersedekah padanya meski hanya lewat menu berbuka.
Dibawalah anak itu masuk le dalam restoran, Fatah memesan menu yang sama sekali lagi dan mereka pun makan bersama.
Senyuman terkulum dibibir Fatah ketika melihat anak itu makan dengan lahapnya.

“Kamu tidak usah khawatir, kamu boleh makan sepuasnya. Dan nanti saya juga akan membelikan makanan buat ibu kamu di rumah.” ucap Fatah.
“Aa teh serius? Makasih ya, a'” ucap anak kecil itu dengan girangnya.
“Nama saya Fatah, nama kamu siapa?” tanya Fatah.
“Saya Alif, a’.” jawab Alif sembari terus makan.
“Habis sholat mahrib, saya akan antarkan kamu sampai rumah.” kata Fatah.
“Waaah, makasih aa Fatah. Aa baik sekali.” ucap Alif.

Setelah memesan makanan lagi untuk ibunya Alif di rumah dan sholat mahrib, Fatah pun mengantarkan Alif ke rumahnya.
Rumah Alif terletak di sebuah kampung yang jauh dari kota.
Tak bisa Fatah bayangkan bila ia menjadi Alif dan harus berjalan kaki dari kota menuju kampung ini setiap hari.

Mobil Fatah diparkir di sebuah tanah lapang di dekat sebuah kali. Dari sana ia dan Alif masih harus berjalan kaki menyusuri jalan setapak menuju rumah Alif.
Sementara itu Alif berjalan sembari menenteng kantong plastik besar berisi makanan sembari menari karena saking senangnya.
Namun langkahnya terhenti ketika ia lihat di depan rumahnya ada banyak orang.
Ia pun berjalan cepat menuju ke rumahnya dan Fatah pun mengikutinya.

“Aya naon ieu teh?” tanya Alif pada salah satu warga.
“I… Itu, Lif. Emak kamu…”
“Emak saya kenapa?” tanya Alif lagi.

Warga tersebut tak kuasa memberitahukan perihal ibunya yang sudah terbujur kaku itu. Akhirnya ia hanya terdiam.
Dan Alif yang penasaran berlari ke dalam rumah dan menyaksikan orang-orang tengah memenuhi kamar ibunya.

“Emak!” teriak Alif.
“Emak kenapa? Emak, jangan pergi mak! Jangan tinggalin Alif!” teriaknya lagi.
Fatah mendekati Alif, lalu ia memeluknya, “Kamu harus sabar, Lif.” ucap Fatah.
“Tapi a’, saya gak punya siapa-siapa selain emak.” kata Alif sembari sesenggukan dan menyeka air matanya.
Fatah kemudian memandang lekat pada mata yang terus menangis itu, “Kamu tak sendiri. Kamu masih punya saya, mulai hari ini saya akan menjadi keluarga kamu.” ucap Fatah.

Fatah kembali memeluk Alif, dan meski Fatah meyakinkan bahwa Alif memiliki dirinya, tetap saja ia tak bisa berhenti menangis.

Beberapa tahun kemudian…

“Emak, saya sudah sekolah lagi. Aa Fatah yang telah merawat saya sampai menyekolahkan saya sepeninggal emak. Doakan saya, semoga bisa lulus dengan nilai yang bagus.” ucap Alif sembari mengusap nisan bertuliskan nama ibunya itu.

Sesaat kemudian bunyi klakson di seberang jalan terdengar, tanda bahwa Alif harus mengakhiri penziarahan ke makam ibunya itu.

“Sudah atuh, pak. Biarkan saja,” ucap Fatah.
Sang sopir menoleh ke belakang, “Tapi ini sudah terlalu lama.” kata sopir itu.

Memang sudah kebiasaan setiap Alif berziarah ke makam ibunya pasti akan memakan waktu yang lama. Parahnya ia tak peduli meski tengah ditunggu oleh pak supir dan Fatah.

Alif pun berjalan keluar makam, sesekali ia menoleh ke arah makam ibunya untuk sekedar mengucap selamat tinggal atau hanya melempar senyuman.
Ia kemudian masuk ke dalam mobil, lalu mobil itu melaju meninggalkan pemakaman.

Selesai.

Advertisements