Diposkan pada Cerbung

Cerita Masa Lalu : 10.

Adri mengetuk kamar Mamad, tidak ada jawaban meski ia telah melakukannya berkali-kali. Belakangan Adri tahu bahwa pintu kamar Mamad tak dikunci, ia pun masuk ke dalam. Jantung Adri berhenti berdetak, ia memandang berkeliling tetapi ia tetap tak menemukan Mamad.

Ponsel Adri bergetar ketika ia membuka lemari di ruangan itu, Adri sedikit lega melihat barang-barang Mamad masih tertata rapi di sana.

Adri kemudian teringat akan ponselnya, ia pun segera meraihnya lantas membuka sebuah pesan yang masuk.


From Mamad :


“Saya pulang dulu, ada keperluan,”


To Mamad :


“Saya tunggu kamu, semoga kamu selamat sampai tujuan,”


Adri tersenyum membaca pesan itu, ia menutup flap ponselnya lantas keluar dari kamar itu.


Sementara itu,


Bandung


Mamad memandang berkeliling, setidaknya wajah datar adalah perubahan yang baik setelah wajah sayunya akhir-akhir ini. Udara di dalam bis itu berubah menjadi dingin, suatu pertanda bahwa bis itu telah memasuki area tempat tinggal Mamad.


Setelah sampai di terminal, Mamad harus menaiki bis lagi untuk sampai di desanya.

Bis itu melewati jalan berkelok dan banyak tanjakan, jalanan di kaki gunung Mangu memang terkenal akan keterjalannya.


“Kau yakin uang sisa penjualan tanah itu mau kau pakai sendiri?” tanya Budi.

Mamad mengangguk yakin, “Aku sudah putuskan hal itu,” jawabnya.


Budi bangkit dan berjalan memasuki kamarnya, sesaat kemudian ia kembali dan menyerahkan amplop berwarna cokelat yang terisi penuh oleh sesuatu.


“Tapi kau harus ingat, aku tak akan bertanggung jawab bila ayah ibumu menanyai hal ini dan apapun yang terjadi.” kata Budi.

Mamad mengangguk lagi, “Tenang saja, ini hanya tentangku,” katanya.


Mamad pamit dan meninggalkan rumah Budi, ia berniat pulang ke rumah dan menjenguk keluarganya. Dalam perjalanan pulang itulah sesekali Mamad akan melihat isi tasnya, melihat sesuatu yang ia beli di pasar loak. Ia juga melihat nama dirinya yang tercetak rapi di papan nama kecil yang ia pesan di suatu percetakan. Papan nama itu bertuliskan, “Akhmad Abdul R”.


Mamad baru saja sampai di rumahnya ketika ponselnya bergetar. Sebuah nomor asing. Tanpa pikir panjang, Mamad langsung mengangkatnya.


“Halo? Mas bisa pulang gak? Ibu lagi sakit,” suara itu ialah suara Sita, dari nada bicaranya Sita tengah tergesa.

Mamad membuka pintu rumahnya, “Mas sudah ada di rumah,” jawab Mamad seraya mematikan sambungan telepon.

Mamad berjalan menuju kamar ibunya, “Ada apa?” tanyannya.


Sita, Rahman dan Tina sama-sama terkesiap ketika menoleh dan menyadari keberadaan orang berseragam yang tak asing itu.


Sita bangkit dan berlari ke arah kakaknya, “Mas!!!” teriaknya sembari mendekap Mamad.

“Mas, Sita kangen!” katanya setengah berteriak.

Sita melepaskan pelukannya, ia menatap lekat pada seragam yang kakaknya kenakan itu. “Mas pakai seragam?” tanyanya dengan mulut menganga.

Ragu, Mamad mengangguk, “Tapi kok…”

Mamad tak mengindahkan perkataan Sita, ia berjalan menuju ke arah ibunya yang tersenyum sejak ia menginjakkan kaki di ruangan itu. “Ibu kenapa?” tanya Mamad.

Dengan senyum yang masih bertahan di wajahnya, Sita menjawab, “Ibu tidak apa-apa, apa kabar kamu?” tanyanya.

“Saya baik-baik saja,” jawab Mamad.


Rahman bangkit berdiri, ia berjalan cepat keluar ruangan. Sebuah senyuman terbit di wajahnya dan Sita sempat melihatnya sebelum disembunyikan di wajah garangnya itu.


“Ayah tersenyum,” kata Sita pelan.


Ketiganya lantas tersenyum bersama mendengar kekata yang Sita lontarkan, sedangkan Tina merasa tak lagi sakit melihat putranya pulang mengenakan seragam.


“Lha, kok cepet banget? Apa gak bisa kembali besok?” tanya Sita.

Mamad tersenyum, “Tidak bisa, Dik. Nanti kakak dimarahi senior kakak kalau gak pulang sekarang,” jawabnya seraya mencubit pipi kanan adiknya.

Ajeng menjatuhkan sayuran yang ia pegang melihat seseorang di depan sana, Sita yang melihatnya langsung menghampiri. “Mbak Ajeng kenapa?” tanyanya.


Ajeng menggeleng pelan, ia memandang Mamad tanpa berkedip. Ajeng menghampiri Mamad dan menarik Mamad, dibawanyalah Mamad menjauhi rumahnya.


“Mbak pinjem kakakmu dulu, sayuran yang jatuh itu buat kamu. Maaf mbak gak bisa bantu bersihin,” ucap Ajeng ketus ketika berpapasan dengan Sita lagi.


Mata Ajeng terasa sangat panas, siap meledakkan genangan air mata yang ia tahan sejak tadi.


“Mereka percaya? Maksud kamu melakukan semua ini apa?” tanya Ajeng masih dengan nada yang ketus.

Mamad mengangguk, “Aku tidak mau membuat mereka kecewa,” jawabnya.

Ajeng menampar wajah sahabatnya itu, “Tapi kamu membohogi mereka,” ucapnya.

“Aku tahu! Aku tidak mau membuat semua yang menyanyangiku—seperti kamu kecewa,” kata Mamad, jantung Ajeng berhenti berdegub, “seperti…”

“Dissa!!!” teriak Ajeng.

Mamad mengangguk lagi, “Sepertinya aku sudah tidak kenal Akhmad Abdul Rozaky, sahabatku, mungkin dia telah mati.” kata Ajeng sembari berlenggang pergi meninggalkan Mamad.


Mamad terpegan, kebongongannya tak hanya menyakiti hatinya sendiri, tetapi hati Ajeng dan juga telah membuat ia kehilangan sahabat yang sangat ia sayangi.


“Barangkali ini juga yang Enal rasakan saat aku pergi,” kata Mamad seraya memegangi dadanya.


Mamad duduk di halte, di sana kata-kata Ajeng terus terngiang. Mamad menilik isi tasnya lagi, ia melihat amplop cokelat dan seragam abu yang tadi ia pakai. Seragam yang membuat keluarganya senang, ayahnya tersenyum. Sejenak Mamad merasa semua kebohongannya tidak terlalu buruk.


Mamad menaiki bis terakhir menuju ke kota, di perjalanan itulah ia melihat Ajeng tengah duduk di beranda rumahnya sembari sesekali menyeka air mata. Mamad ingin sekali berhenti saat itu juga, hatinya hancur melihat Ajeng menangis seperti itu. Meski dari jarak jauh, Mamad bisa tahu bahwa Ajeng sangatlah sedih saat itu dan semua karena kebohongan yang Mamad buat.


“Aku berjanji setelah ini aku akan pakai seragamku sendiri, Jeng,” ucapnya dalam hati.


Mamad tersenyum, ia teringat akan janji yang ia buat dulu bersama Ajeng. Padahal ia berjanji tidak akan pulang sebelum cita-citanya tergapai, akan tetapi ia malah pulang membawa kebohongan besar. Mamad berpikir, barangkali ada beberapa orang yang datang ke rumah Ajeng dan hal itu juga yang membuat Ajeng teramat marah.


Mamad membuat janji lagi, ia berjanji tidak akan mengingkari janjinya yang kali ini.

Diposkan pada Cerbung

Cerita Masa Lalu : 9.

Jakarta

Mamad memandang keluar, di sana ia melihat sebuah plang bertuliskan nama-nama daerah di kota ini. Ia bahkan tak tahu harus ke mana, ia ikuti saja ke mana bis itu mengarah.

Sebentar-sebentar, Mamad terlihat menghapus air mata yang mengalir melewati pipi.


Bandung


“Apakah Mamad ada di rumahnya?” tanya Enal.

Ajeng menggeleng pelan, “Kebetulan kemarin aku ke rumahnya mengantarkan sayuran, aku tak melihatnya sama sekali.” jawab Ajeng.

Dahi Enal berkerut, “Apakah ada sesuatu?” kali ini Ajeng yang bertanya.

“Tidak ada,” jawab Enal singkat.


Enal pun segera menutup panggilan telepon itu, ia benar-benar mengkhawatirkan keadaan sahabatnya. Ajeng pun tak kalah khawatirnya dengan Mamad, ia merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh Enal. Sesuatu yang Ajeng tak boleh tahu.


“Apa yang terjadi dengannya?” tanya Ajeng dalam hati, ia masih menatap layar ponselnya.


“Bagaimana?” tanya Tisna yang duduk di sofa sembari memandangi Enal.

Enal menggeleng, “Dia tidak pulang, teh,” jawabnya lesu.


Keduanya lantas berpandang-pandangan, mereka memikirkan seseorang yang sama: Mamad.


Jakarta


Mamad duduk di bangku taman, memandangi hilir-mudik kesibukan kota. Di sana tak ia temukan keramaian, kesendirian memenuhi hatinya.


“Kenapa kau melamun seperti itu, anak muda?” tanya seseorang yang tanpa Mamad sadari sudah duduk di sebelahnya.

Mamad menoleh, ia melihat keramahan di wajah orang asing itu. “Apa yang terjadi kepadamu?” tanyanya lagi.

Mamad menggeleng pelan, “Ceritakanlah semuanya kepadaku,” ucapnya sembari menepuk pundak Mamad.

Mata Mamad terasa panas, “Aku telah gagal atas mimpiku. Tetapi yang lebih menyakitkan, aku telah gagal atas cintaku,” ia berkata seraya menunduk.


Entah kenapa orang itu tersenyum mendengar jawaban Mamad, ia menghembuskan nafas dalam sebelum menepuk pundak Mamad beberapa kali.


“Namaku Adri, aku bisa melakukan apapun. Jadi, apa yang bisa aku lakukan untukmu? Apa yang kau butuhkan?” tanya Adri.

Mamad menoleh lagi, “Aku butuh cintaku, aku harus menjadi seorang polisi untuk mendapatkannya.” jawab Mamad.

Adri mengangguk, “Aku pasti bisa menjadikanmu apapun,” katanya.


Mamad tak pernah menyangka bila pertemuannya dengan Adri, orang asing di depannya kini, bisa membuat hati dan pikirannya begitu damai. Adri seperti malaikat yang dikirimkan Tuhan untuk menghibur hatinya yang duka lara. Ia pun bersyukur atas pertemuan itu.


“Ini kamar untukmu,” kata Adri seraya menujuk sebuah ruang.

Mamad segera masuk ke dalam, “Terima kasih,” ucapnya seraya berbalik.

Adri tersenyum, “Kamu istirahatlah dulu di sini, aku akan mengurus semuanya. Nanti pasti aku kabari,” katanya menjelaskan.


Mamad tersenyum lagi, sementara itu Adri pamit dan berlenggang pergi dari ruangan Mamad.


“Aku punya pekerjaan untukmu, Mark,” kata Adri.

Mark, orang di hadapan Adri itu mengangguk, “Aku siap melakukan apapun,” katannya penuh keyakinan.

Adri menatap lekat mata Mark, “Aku berjanji ini adalah yang terakhir kali,” katanya.

Mark tersenyum, “Aku tahu hatimu sebenarnya hati orang yang baik,” Adri memalingkan pandangan, “…kamu melakukan pekerjaan kita ini untuk menyelamatkan putrimu.” ucapnya.

Adri mengibaskan tangan kirinya, “Kamu memang selalu pandai memuji,” katanya.

“Kau tahu, terkadang aku juga merasa bahwa diriku dihipnotis,” dahi Adri seketika berkerut, “Maksud kamu?” tanyanya.

Mark menyeringai, “Sekarang, siapa dermawan yang mau melakukan dosa?” tanyanya.


Itulah hal yang membuat Adri selalu merasa bersalah setiap kali ia melibatkan Mark dalam pekerjaannya. Mark adalah seorang dermawan; ia membagikan makanan untuk orang-orang di jalanan, mengunjungi masjid-masjid untuk memberikan sumbangan dan membantu orang-orang kesusahan.


Adri menunduk, “Ya, sudah. Aku akan lakukan sendiri saja.” ucapnya.

Mark tertawa mendengar kata itu, “Aku bercanda, Dri,” katanya masih terkekeh.

Adri mendongak dan tersenyum, “Nah, itu dia. Senyummu itu terkadang juga ku anggap sebagai hipnotis, sehingga aku bisa seyakin ini membantumu,” kata Mark sembari menunjuk tepat senyum Adri.


Adri kembali menunduk, sementara Mark tertawa lebih keras lagi.


✳✳✳


Delima menatap keluar jendela, ia selalu membenci ketinggian tetapi malah dipindahkan ke ruangan yang paling tinggi. Di ruangan bawah, ia biasa melihat kupu-kupu dan bebunga di taman rumah sakit. Dari atas, ia tak melihat apapun yang ada di bawah. Di sana hanya ada; bangunan yang menjulang ke langit, senja terbenam dan burung-burung yang tersesat dalam perjalanan pulangnya. Barangkali—menurut orang-orang bakal lebih indah dari yang ada di bawah, akan tetapi Delima tetap tak menyukainya.


Adri mencium kening Delima, hal itu sedikit mengagetkan Delima. “Kamu melamun?” tanyanya dengan dahi berkerut.

“Apa yang kamu pikirkan, sayang?” tanya Adri lagi, kali ini ia memegang tangan putrinya itu.

Delima menoleh, melihat kepada ayahnya. “Berapa waktu yang Delima punya, ayah?” tanyanya.

Pertanyaan itu menghancurkan hati Adri saat itu juga, “Kamu tidak boleh bilang seperti itu,” katanya.

“Delima punya permintaan,” kata Delima.

“Apa itu?” tanya Adri.

Delima tersenyum, “Delima pengen lihat ayah pakai seragam lagi,” jawabnya, “sama seperti di foto ini.” Delima menunjuk wajah ayahnya di sebuah foto usang.

“Tapi…”

“Aku mohon,” tukas Delima.


Adri tak bisa berkata apa-apa lagi, ia hanya mengangguk lantas tersenyum. Sudah lama sekali ia tak bersua dan memakai seragam itu, sejak pemecatannya karena suatu rumor yang menjadi kenyataan.


Sembari mencari seragam yang Delima maksudkan, Adri terus mengumpat. “Dari mana Delima tahu kalau dulu aku seorang patriot? Siapa yang memberitahunya?” tanya Adri kesal.

Sesekali Adri akan melemparkan barang yang bukan ia cari, “Mark,” gumam Adri, ia menghentikan aktifitasnya.

“Pasti dia,” ucapnya, “awas saja nanti kalau ketemu lagi.” katanya setengah mengeram.

“Ah, ketamu!” seru Adri begitu ia menemukan sebuah kotak berwarna putih.


Adri membuka kotak itu, seragam berwarna abu-abu itu masih terlihat bagus meski sudah tak terjamah bertahun-tahun lamanya.


Adri berada di depan cermin, memasukan satu persatu kancing baju. Pada kancing terakhir, Adri menghadap kedepan: melihat bayangan dirinya sendiri yang seketika memiliki aura terhormat memakai seragam itu. Adri tersenyum, ia lantas berkacak pinggang. Ia kemudian berhormat lalu berkacak pinggang lagi, ia melalukannya terus menerus seperti dahulu sebelum pergi ke tempat kerja.


“Apa yang kamu lakukan dengan seragam itu?” tanya seseorang dari arah belakang.

Adri menoleh, “Kamu jangan mikir macam-macam, aku hanya…”

“Aku berharap kamu selalu pakai seragam itu.” tukas orang itu.

Adri terdiam, “Meski pun aku mencintaimu dengan atau seragam itu, aku hanya merasa dulu kamu sedikit lebih keren,” kata orang itu lagi.

Adri berjalan menghampiri orang itu, “Bila, aku juga sebenarnya tidak mau melepaksan ini,” kata Adri.

“Kamu tahu, terkadang karena terlalu kesal, kita yang dituduh mencuri akan benar-benar mencuri.” kata Adri.

Bila menggelang pelan, “Aku mulai tidak paham,” katanya.


Adri kembali mendekati Bila, kini jarak mereka hanya sehembusan nafas. Adri mendekap Bila, Bila melakukan hal yang sama. Dekapan-dekapan Adri itu selalu penuh arti dan Bila selalu merasa dirinya payah ketika tidak bisa memahami maksud dari dekapan-dekapan itu. Ia selalu menganggap suaminya itu hanya sedang rindu saja.

Diposkan pada Cerbung

Cerita Masa Lalu : 8.

Dissa menatap lekat kedua mata Ajeng, “Dibandingkan rasa cintanya kepadaku, ternyata katakutannya lebih besar. Dia memang lemah,” ucapnya.


Dissa kembali melangkah, meninggalkan Ajeng dengan kedua tangan mengepal lantaran kesal kepada Dissa.


Mamad terasingkan di suatu ruang persegi. Tidak ada lagi keramaian, yang ada hanya betapa setianya seorang sahabat terhadap sahabatnya.


“Dissa, Dissa,” dengan mata tertutup Mamad terus menggumamkan nama yang sama.

Ajeng memijat pelipisnya, ia betul-betul pusing dengan kisah percintaan sahabatnya yang pelik itu. “Aku selalu tidak percaya tentang orang patah hati yang berkata, ‘cinta itu pembodohan’. Tapi kini aku percaya, melihat kamu menjadi seperti ini,” ucapnya dalam hati.


Ajeng nyaris terlonjak mendengar bunyi pintu yang dibuka dengan sangat kasar, ia sontak menoleh karena hal itu dan melihat Enal setengah berlari ke arah Mamad dengan berurai air mata dan air muka masih terisi kekesalan.

Enal meremas kerah baju Mamad, ia lantas mengangkat Mamad ke udara tetapi ia segera melepaskannya. Kesedihan lebih mendominasi perasaan hati ketimbang kekesalan, maka ia mendaratkan kepala di sebelah badan Mamad dan menangis sesenggukan lalu sesekali memukul-mukul dada Mamad.

Ajeng tak tinggal diam, ia berusaha menyekat seragan-seragan Enal yang kian melemah itu sedangkan Mamad terjaga karena perlakuan Enal.


Mamad menoleh, “Maaf,” gumamnya.

Enal mendongak, menatap sayu wajah kuyu sahabatnya. “Maaf,” ucap Mamad lagi.


Enal menghambur, ia memeluk Mamad erat dan perasaan keduanya disatukan.


Di depan ruangan tempat Mamad terlelap itu Ajeng dan Enal duduk bersama, belum ada sepatah katapun yang terucap dari bibir mereka, hanya gerakan-gerakan tangan yang terlihat sigap menyeka bulir-bulir sebelum sampai ke bumi.


“Kamu tahu,” Mamad menoleh, “…Mamad adalah seorang perencana yang hebat. Ia selalu punya cadangan untuk meminimalisir suatu kegagalan, apapun itu,” ucap Ajeng.

Mamad mengangguk, “Dan hari ini kamulah rencana rancangan itu. Hati Mamad sangat rapuh, sampai ia harus melahirkan penawar terlebih dahulu untuk semua yang menyakiti hatinya,” ucap Ajeng lagi.

“Sekalipun dia saat ini tengah terluka karena kehilangan kesempatan, dan juga cinta, tapi aku yakin di lubuk hatinya yang entah yang mana ia merayakan keberhasilan kamu,” Enal mengimani semua kata yang Ajeng ucapkan, memang selalu ada sesuatu di balik sesuatu dalam hidup Mamad.


✳✳✳


“Aku ini sahabat yang tidak baik. Seharusnya di saat-saat seperti ini aku ada di sisi Mamad, tapi aku malah meninggalkannya,” ucap Ajeng sembari menunduk.

Enal mencoba menghibur Ajeng, “Tak apa, lagi pula nanti ayahmu akan khawatir kalau kamu pulang di luar waktu yang sudah kamu katakan,” ucapnya.


Ajeng menepuk pundak Enal. Ia tersenyum lantas melayangkan tangan kanannya dan hormat kepada Enal. Enal yang melihat hal itu tersenyum, ia lantas hormat kepada Ajeng dan keduanya berhormat-hormat.


“Saya mohon jagalah sahabat kita yang sedang patah hati itu, komandan!” kata Ajeng setengah berteriak.

Enal membusungkan dadanya, “Siap, laksanakan!” serunya penuh senyum.


Ajeng melambai pelan dan Enal melakukan hal yang sama, mesin bis kemudian dinyalakan dan dalam sekejab Ajeng terbawa arus arah tujuan.


Enal berniat mengunjungi Mamad lagi, namun ia sedikit terkejut melihat ruangan itu sudah kosong dan rapi.


“Ke mana,” gumam Enal seraya memandang berkeliling.


Sementara itu…


Tisna terkesiap melihat Mamad dengan wajah penuh kekesalan itu menuju kamarnya, saking terkesiapnya Tisna bahkan tak sempat menanyai apa yang terjadi dengan Mamad.


Tisna berjalan ke arah kamar Mamad, ia mendapati Mamad tengah berkemas dan sesekali tangannya sigap mengusap ujung mata. “Aya naon, kasep?” tanya Tisna, ia menatap nanar Mamad di ujung ruangan sana.


Mamad menghentikan aktifitasnya berkemas sejenak. Ia memandang ke depan, menarik nafas lalu melakukan aktifitasnya lagi.

Tisna merasa ada yang aneh, ada yang berbeda. Melihat reaksi Mamad, Tisna bisa memahami bahwa saat ini Mamad sedang butuh bersendiri. Ia pun keluar dan kembali duduk di ruang makan.

Tisna baru saja duduk ketika Mamad menghadap, ia mendongak dan menyaksikan Mamad meletakkan uang di meja tanpa berkata-kata.


Tisna memegang tangan Mamad ketika Mamad berbalik badan dan hendak melangkah, “Semua orang pasti punya masalah, dan mereka juga pasti  punya jalan keluar.” katanya pelan.

Tisna meraih uang di meja, “Apapun yang terjadi, apapun yang akan kamu hadapi di luar sana, saya akan terus berdo’a agar segala sesuatunya baik-baik saja.” ucapnya lagi seraya tersenyum dan meletakkan uang di telapak tangan Mamad.


Mamad tak mengindahkan, ia berlenggang pergi meninggalkan Tisna yang masih berkencan dengan tanda tanya agung tentang apa yang Mamad alami hari ini.


Enal berjalan tergesa saat menuruni tangga bis kota, saat itulah ia menoleh ke kiri dan melihat Mamad tengah menaiki bis di depan bis yang baru saja ia naiki.


“Mamad!!!” teriak Enal keras.


Bis itu berjalan cepat meninggalkan Enal yang berlari sekuat tenaga. Mamad memandang keluar jendela, namun ia tak menyadari bilamama Enal berteriak memanggil-manggil namanya.


Enal terjatuh di langkah yang kesekian, kepalanya terbentur batu yang membuatnya merasakan nyeri paling menyakitkan setelah kucuran darah mengaliri wajahnya.


“Ah, sial!” maki Enal.


Enal memandang bis kota yang Mamad naiki, bis itu semakin kecil seiring semakin jauhnya jarak antara Enal dan bis itu.


Tak hanya kepala yang berdarah, Enal juga mendapat luka di kakinya yang membuatnya berjalan terseok-seok. Sontak Tisna yang melihat kengerian itu bangkit dan menghampiri Enal.


“Aya naon, kasep? Cikeneh si Mamad nu aheng, ayeuna anjeun raheut,” [26] tanya Tisna penasaran.

Enal memandang Tisna tanpa asa, “Mamad sudah pergi, teh,” ucapnya.

“Teteh tahu. Dalam hidup, kedatangan dan kepergian itu sudah biasa.” Tisna mencoba menghibur Enal yang tampak bersedih itu.

“Saya belum siap tanpa dia, teh,” ucap Enal, jujur.

Tisna menggeleng, “Kamu harus siap, mulai sekarang kamu akan berjalan sendiri. Kamu akan meraih mimpi kamu,” kata Tisna meyakinkan Enal.

Dahi Tisna berkerut, ia berencana akan mengeluarkan tanya dalam benaknya. “Mamad teh, gagal?” tanyanya pelan.

Enal hanya mengangguk, “Pantas,” gumam Tisna.

“Sekarang, tunggu di sini. Saya akan ambilkan obat dan air untuk membersihkan luka kamu,” ucap Tisna seraya bengkit dan menuju tujuannya.


[26] Ada apa, ganteng? Tadi Mamad yang mengherankan, sekarang kamu terluka,

Diposkan pada Cerbung

Cerita Masa Lalu : 7.

Berenang di kali sepulang sekolah sudah menjadi kebiasaan Enal dan Mamad. Siang itu cuacanya tengah mendung, Mamad yang ragu pun mengurungkan niatnya. Sementara Enal telah menceburkan diri dan sudah sampai di ujung kali.

Setetes air mata langit mulai menetes. Mamad mendongak, saat itulah tetesan-tetesan itu kian banyak hingga membasahi seragamnya. Mamad menoleh ketika suara gemuruh terdengar dari arah kanannya, jantungnya langsung berdebar kencang begitu menyadari hal itu.


Mamad lantas melihat kepada Enal, Enal masih saja asyik berenang. “Enal! Gancang naik, aya caah!!!” [23] teriak Mamad sekencang yang ia bisa.

Seperti tidak mendengar, Enal justru menyelam dalam-dalam. “Maot urang,” [24] gumam Mamad.


Mamad melempar tasnya ke hamparan rumput nan hijau, tanpa pikir panjang lagi ia langsung menceburkan diri ke air dan menuju Enal. Sesekali Mamad melihat ke arah kanan, menyadari banjir itu sudah sangat dekat dengan jaraknya.

Mamad menarik Enal, sementara Enal yang sedikit kebingungan mengelak. Akan tetapi Mamad meraih tangan Enal lagi dan membawanya ke tepian.


Mamad berkacak pinggang, “Kau tak dengar apa? Aku sudah panggil-panggil kau, ada banjir!!!” tanyanya penuh penekanan, ia terlihat mengatur nafasnya.


Banjir itu menerjang ketika Mamad selesai menandaskan kekesalannya pada Enal. Mamad terbawa arus banjir itu, sementara Enal yang masih terkaget bertahan dengan berdiam seperti patung sebelum menutup mulutnya yang melongo.


“Tulung! Tulung!” [25] teriak Enal seraya memandang berkeliling.


Di sekitar Mamad tidak ada siapapun, ia mulai kebingungan harus berbuat apa. Ia akhinya berlari menuju jalanan, di sana pun tak ia temukan siapapun. Ia akhirnya pulang ke rumah, menceritakan semuanya kepada Bakhri, ayahnya, dan ia dimarahi karena hal itu. Bakhri segera keluar, entah apa yang terjadi selanjutnya.

Sore harinya, Bakhri pulang. Enal yang duduk di kursi tamu seraya menyeka air mata yang tak bisa berhenti itupun menghampiri ayahnya. Ia menanyakan tentang Mamad, akan tetapi sang ayah hanya menggeleng pelan dengan wajah terisi keputusasaan.

Malam harinya Bakhri keluar dengan mengalungkan sarung di lehernya dan menenteng sebuah senter, Enal yang masih terjaga itu ngotot tetap ingin ikut dalam pencarian Mamad malam itu.

Semua orang menyisir sungai sembari memanggil nama Mamad, tidak pernah ada jawaban atas panggilan-panggilan itu. Enal mendekati sebuah batu besar, di belakang batu itu ia melihat sebuah kaki. Kaki itu bergerak ketika Enal hendak menghampirinya, Enal mundur beberapa langkah. Terdengarlah suara gemericik air, Mamad muncul dari balik batu itu setelahnya dan Enal tak tahu harus senang atau sedih melihat Mamad di hadapannya. Mamad terlihat baik-baik saja dengan senyum yang mengembang di wajahnya, akan tetapi darah yang mengucur dari kepalanya membuatnya seperti menangis dan mengeluarkan air mata darah.

Mamad mendekati Enal, dalam hitungan detik tungkai-tungkai Mamad kehilangan daya dan ia jatuh tersungkur ke tanah.

Enal segera menghampiri Mamad, ia memandang berkeliling dan memanggil orang-orang agar menjelang. Orang-orang datang setelahnya, mereka bersyukur telah menemukan Mamad meski pun Mamad penuh luka.

Sejak hari itu Enal berjanji tidak akan pernah berenang di kali lagi, Mamad pun membuat janji yang sama.


Enal harus menghampiri Mamad dan menepuk pundaknya untuk menyadarkan Mamad dari lamunan, “Kau kenapa, Mad?” tanya Enal, ia benar-benar khawatir pada sahabatnya itu.


Mamad menggeleng pelan, namun ia tetap memegangi dadanya: merasakan debaran jantung melebihi apapun itu.

Enal kembali ke posisinya, ia menoleh sejenak sebelum bunyi peluit dinaikkan dan kesemuanya menceburkan diri ke kolam dan berenang menuju ujung.


Ajeng memandang berkeliling, ia menemukan keberadaan Dissa di ujung tribune paling bawah, entah sejak kapan ia di sana. Hati Ajeng sedikit lega, setidaknya adanya Dissa bisa membuat perjuangan Mamad menjadi tidak terlampau sulit, pikirnya.


Enal segera menoleh ke belakang tepat ketika ia sampai di ujung, jantungnya terus berdebar mengingat dan melihat Mamad yang berenang ke ujung seperti dirinya dan yang lainnya itu.

Sementara itu, mimpi buruk terputarkan dalam ingatan Mamad. Dalam waktu sepersekian detik, tubuh Mamad melesat ke dalam kolam. Mamad mengelak, namun rantai-rantai sekat itu mengekangnya dan ia bertahan di sana tanpa bergerak, tanpa nafas dan tanpa kehidupan.


Ajeng menutup mulut dengan kedua telapak tangannya melihat Mamad, sementara Enal berteriak, “Mamad!!!” teriaknya.


Enal kembali menceburkan diri ke kolam, ia menghampiri Mamad dan membuat Mamad berdiri. Akan tetapi Mamad tidak mempunyai tenaga lagi, air dingin di kolam itu seolah telah menyerap segalanya termasuk semangatnya yang selalu mengebu.


Bunyi peluit kembali dinaikkan, suaranya yang kali ini tak hanya menusuk gendang telinga tetepi menusuk hati Enal. Karena kesal, Enal membenamkan kepala Mamad di kolam lalu menganggkatnya. Ia melakukan hal itu sampai Mamad kesusahan bernafas, semantara beberapa orang segera menghampiri keduanya dan melerainya.


Enal menunjuk Mamad, “Dasar sieunan! Anjeun nu miwarang abdi aya di dieu, anjeun malih teu usaha teuas,” [25] seseorang bahkan mendekap mulut Enal karena Enal terus mamaki Mamad.


Mamad dibaringkan di tepian kolam, seseorang menanyai keadaannya dan berusaha menengangkannya yang masih linglung.


“Sabar, masih ada tahun depan. Yang sabar,” ucapnya pelan seolah mengeja kesemua kata.

“Sita pengen lihat mas pakai seragam. Demi kamu, apapun akan ibu lakukan. Awas kalau kamu pulang gak pakai seragam.” Mamad justru mendengar kata-kata dari Sita, ibunya dan Ajeng sebelum ia berangkat ke kota.


Mamad berteriak histeris setelahnya begitu kesadarannya terkumpul, teriakkannya membuat semua orang melihat kepada dirinya dan merasa iba. Air mata itu pun akhirnya mengalir, tak pernah Mamad rasakan kesedihan sesedih itu sebelumnya. Ia telah gagal.


Dissa memalingkan pandangan, ia melangkahkan kaki dan pergi dari tempat itu dengan hati yang teramat kesal.


Seseorang meraih tangan Dissa tepat ketika Dissa sampai di gerbang, “Tunggu,” ucap orang itu.

Dissa menoleh, “Ajeng,” ucapnya.

“Aku mohon kamu jangan pergi, saat ini Mamad sangat membutuhkan kamu,” ucap Ajeng penuh pengharapan.

Dissa melepaskan pegangan tangan Ajeng, “Dia sudah gagal, Jeng. Kamu tahu kan apa artinya itu?” tanya Dissa dengan penekanan di sana sini.

“Masih ada tahun depan, Dis. Tolong kamu hargai usaha kekasihmu itu,” ucap Ajeng masih terus memohon.


Dissa terdiam, ia termenung. Dissa tahu mimpi Mamad bukan di sini, Dissa juga tahu Mamad melakukan semua ini untuk dirinya. Akan tetapi Dissa tetap tidak bisa menerima kegagalan Mamad.


[23] Enal! Cepat naik, ada banjir!!!

[24] Mati saya,

[25] Tolong! Tolong!

Diposkan pada Cerbung

Cerita Masa Lalu : 6.

Taman kota itu tampak sepi di siang hari yang menyengat di musim kemarau. Dissa bertahan di bawah rerimbunan pohon, ia segera mengusap-usap kulit putihnya begitu kulitnya itu tersengat matahari yang masuk melalui celah dedaunan.

Dissa membawa dua lembar kertas yang sesekali ia lihat, terkadang pula ia gunakan lembaran itu untuk meniadakan betapa panasnya badan ketika mentari menguasai bumi.


Dissa tersenyum begitu melihat Mamad berjalan ke arahnya, “Akhirnya,” gumamnya.


Mamad memakai celana pendek yang usang, kaos bertuliskan ‘I Love Bandung’ yang sama usangnya dan sendal jepit yang masih baru. Dengan langkah memburu ia menghampiri kekasihnya itu, ia menghapus buliran keringat di kening sebelum menyunggingkan senyuman.


“Maaf, aku terlambat. Ada urusan mendadak tadi,” ucap Mamad beralibi.

Dissa tak mengindahkan, ia menyerahkan lembaran itu kepada Mamad. “Nih, buat kamu sama Enal. Ingat ya, kamu harus berhasil. Kamu masih ingat kan bagaimana caranya mendapatkan hati ayahku?” katanya bengis.

Mamad mengangguk, “Aku selalu mengingat itu,” katanya setengah menggumam.


Mendapatkan hati Dissa dan ayahnya membuat Mamad harus melakukan apapun, bahkan merelakan cita-citanya. Hal itu pulalah yang membuatnya ada di kota yang ia pijaki kini.


Terdengar suara klakson di jalan di ujung taman, “Aku sudah harus pergi,” kata Dissa seraya menoleh.


Mamad memandangi mobil itu lekat-lekat, ia seolah ingin meminta waktu kepada orang di dalam mobil itu, siapapun itu.


Dissa baru saja melangkah ketika tangannya digenggam, “Bagaimana jika aku gagal?” tanya Mamad, air mukanya terisi keseriusan.

Dissa menoleh, “Kamu tidak perlu menanyakan pertanyaan yang kamu sendiri bahkan sudah tahu jawabannya,” Dissa tersenyum lagi, “…aku percaya kamu bisa.” katanya lagi.

“Aku sayang kamu,” ucap Mamad.


Dissa melepaskan pegangan tangan Mamad, ia berjalan mendekati Mamad dan jarak mereka hanya berbatas selapis kelopak mata.

Kedua mata Mamad membelalak begitu bibir Dissa menemui pipi kananya, jantungnya seperti tak lagi bergetar bahkan ia tak sadar bila Dissa sudah ada di ujung taman membuka pintu mobil.


✳✳✳


Ajeng membuka tirai jendela, mentari bahkan belum menampakan hangat sinarnya tetapi ia sudah terjaga. Berlatar belakang suara gema adzan subuh, ia melihat keluar dan tersenyum. Ia belum pernah melakukan hal senekat ini sebelummya.


Suara ketukan pintu terdengar, “Parantos gugah sare, teh?” [18] tanya orang di sebalik pintu, “Janten ka akpol keun?” [19] tanyanya lagi.

Ajeng mengangguk meski tahu orang di luar sana tak dapat melihatnya, “Janten! Sakedap, mang!” [20]  teriaknya seraya membukus tubuhnya dengan jaket tebal.


Ajeng keluar kamar, menyaksikan orang yang tadi menanyainya itu yang menggigil kedinginan meski sudah membalut diri dengan pakaian yang lebih tebal lagi. Ajeng merasa bersalah, ia mungkin tak seharusnya melibatkan orang di depannya ini untuk ikut andil dalam kenekatannya, tetapi di sisi lain ia pun tak memiliki pilihan.


“Hampura, mang. Tiis, nya?” [21] tanya Ajeng.

Orang itu mengangguk, “Teu nanaon, nu utama teh tiasa kapanggih rerencangan teteh,” [22] ucapnya seraya tersenyum.


Dengan dibonceng oleh orang yang dipanggilnya ‘Mamang’ itu, Ajeng membelah dinginnya pagi di jalanan kota yang belum sama sekali berpenghuni itu. Sesekali ia memandang ke langit, di atas sana sepersatu bintang mulai ditelan pagi.


Sementara itu…


Jantung berdegub kencang seolah akan meledak, nafas pun memburu dan kesemuanya itu bercampur bersama gigil pagi. Seorang instruktur di bawah sana terus menyuruh orang-orang termasuk Mamad dan Enal agar cepat dalam mengganti baju, mereka semua memakai pakaian serba putih sebelum terjun ke lapangan di pagi buta itu. Di sisi lain, instruktur itu juga menyuruh para orang tua untuk berhenti sejenak dalam mengabadikan moment anak-anaknya dengan kamera.


Mamad, Enal dan semuanya berkumpul di lapangan, tepatnya di arena lari. Pertama-tama mereka harus berlari cepat dengan waktu yang sama cepatnya pula.


“Aku pasti bisa!” kata Mamad kepada Enal.

Enal mengangguk, “Aku juga, pasti bisa!” katanya bersemangat.


Setiap orang diringi satu orang polisi yang akan menilai mereka, ada pula penilaian melalui sensor yang kian memudahkan penilaian.


Tibalah giliran selanjutnya, pull up. Mamad menatap nanar tiang-tiang di depannya itu, ia ingat betul berat badannya selalu naik dan jika saat ini ia harus mengangkat badannya sendiri, ia tidak tahu apakah ia akan bisa ataukah gagal.

Keringat lahir dari telapak tangan Mamad seiring banyaknya gerakan yang ia buat, Enal sempat menoleh ke arah sahabatnya dan melihat betapa kesusahannya Mamad akan hal itu. Enal berdo’a dalam hati agar Mamad dapat menyelesaikan rintangan yang kali ini.

Jantung Mamad dan Enal sama-sama berdegub kencang, Mamad kehilangan kendali dan satu tangannya bergelantungan menahan tubuhnya sementara tangan satunya lagi di awang-awang. Orang-orang berteriak melihat hal itu, selanjutnya mereka mencoba menyemangati Mamad. Sekuat tenaga Mamad meraih tiang dengan tangan lemahnya itu, ia bisa dan kembali melanjutkan apa yang belum terselesaikan.


Ajeng setengah berlari menuju kolam renang, di sana sudah ada banyak orang memenuhi tribune dan ia harus sedikit berusaha untuk mendapatkan tempat duduk.


Mamad, Enal dan yang lainnya selanjutnya pergi ke kolam renang itu. Ke semuanya lantas melepas baju dan diletakkan di sebuah kotak di dekat kolam. Mereka kemudian bersiap sedia dan ketika bunyi peluit dinaikkan, sepersatu dari mereka menceburkan diri dan berenang menuju seberang dengan waktu yang sangat singkat.


Mamad memegangi dadanya, “Ayolah, kamu pasti bisa!” ucapnya dalam hati.


Debaran jantung Mamad semakin kencang, terlebih ketika ia melihat teman-temannya gagal dan menangis di pinggiran lapangan. Di antaranya bahkan ada yang menangis histeris sekalipun kedua orang tua mereka telah mencoba menguatkannya.


Enal menoleh, Ayolah, Mad. Kau pasti bisa, ini yang terakhir,” gumamnya.

Berlatar belakang tepuk tangan dan sorakan penonton, Ajeng pun memikirkan hal yang sama dengan Enal. “Ayo, Mad. Pasti bisa, pasti bisa, pasti bisa,” katanya dalam hati, dua kata terakhir itu terus terucap, terngiang dalam pikiran.


Mamad, Enal dan beberapa temannya maju ke depan dan bersiap terjun ke kolam setelah nama mereka terpanggil, instruktur itu mengaragkan tangannya ke depan lalu melayangkannya ke atas dengan diiringi bunyi peluit yang nyaring. Semuanya lalu menceburkan diri ke kolam dan berenang menuju impian mereka.


[18] Sudah bangun tidur, kak?

[19] Jadi ke akpol kan?

[20] Jadi! Sebentar, mang!

[21] Maaf, mang. Dingin, ya?

[22] Tidak apa-apa, yang penting bisa ketemu teman kakak,

Diposkan pada Cerbung

Cerita Masa Lalu : 5.

Mamad menoleh, ia tertawa kecil melihat Enal sudah terlelap bahkan dengan mulut menganga. Mamad yang sedikit kesal itu menggoyang-goyangkan tubuh Enal hingga Enal gelagapan dan terjaga.


“Malah tidur kau, di saat aku sudah banyak-banyak cerita,” protes Mamad.

Enal menguap, “Iya iya, aku denger kok,” katanya dengan mata yang tak mau terbuka.

“Kalau kau, bagaima kalau gagal?” tanya Mamad.

Enal memandang langit-langit kamar, di sana tak ada apapun selain susunan genteng warna merah tua. “Bahkan membayangkannya saja aku tak bisa…” kata Enal.


Pikiran Enal berputar, mengungkit mimpi buruk dalam pikirannya itu lagi.


Enal pulang dengan menenteng dua buah tas besar dan satu tas kecil di punggung. Selain membawa lelah, ia juga pulang membawa malu. Orang-orang melihatnya dengan tatapan yang menusuk jantung hati, ia hanya dapat menunduk setelah dipandang begitu.


“Aku pulang,” ucap Enal.

Bakhri yang tengah tiduran di dipan pun segera menuju pintu keluar begitu mendengar suara yang tak asing itu, “Sebentar,” ucapnya dengan wajah berhias senyuman.


Bakhri membuka pintu rumahnya, ia sedikit tak percaya dengan keberadaan orang di depan rumahnya. Enal akhirnya pulang ke rumah.


“Ayah, maaf. Enal gagal,” ucal Enal seraya menunduk.

Bakhri memeluk anaknya, “Tak apa, Nal. Melihat kamu berusaha saja ayah sudah sangat senang,” katanya sembari menepuk pundak Enal beberapa kali, ia juga menyeka air matanya.

Enal segera melepas pelukannya begitu punggungnya terasa basah, “Ayah nangis?” tanyanya.

Bakhri mengangguk, “Ayah terharu, lebih tepatnya. Ayah sangat merindukan kamu,” ucapnya.


Enal mendaki bukit Mangu, ia menuju puncak tertinggi yang bahkan belum pernah ia pijaki. Dari atas ketinggian di bukit itu, angin berhembus menghempas tubuhnya dan bendera merah putih yang mulai usang warnanya.

Di sisi kanan terdapat sebuah jurang yang dalam, cukup untuk membenamkan tubuh Enal hingga tak ditemukan siapapun. Ke sanalah pandangan mata Enal menuju, ia menutup matanya lantas merentangkan kedua tangan.

Tubuh Enal terasa ringan, akan tetapi ia tetap jatuh ke bawah.


Tubuh Enal bergidik, “Ih, ngeri kali,” ucapnya.


Suara ketukan pintu terdengar ketika Enal selesai menceritakan cerita perandai-andaian kegagalannya. Mamad belum sempat menanggapi, ia lebih memilih untuk bangkit dan berjalan menuju pintu.


“Dahar heula, kasep. Parantos abdi sadiakeun ka meja,” [13] ucap Tisna.

Mamad menyunggingkan senyuman, “Hatur nuhun atuh, teh. Mohon maaf, ngerepotin,” ucapnya.

Tisna mengibaskan satu tangannya, “Henteu nanaon,” [14] katanya.

“Sok, atuh. Dahar,” [15] katanya lagi mengingatkan.


Mamad dan Enal pun keluar kamar, ia berjalan menuju meja makan dengan aneka makanan di atasnya. Di sana sudah ada Tisna, menikmati secangkir kopi kesukaannya. Ini adalah yang pertama kali baginya setelah sekian lama rumahnya tak dihuni calon patriot. Ia selalu menyambut hangat orang-orang itu, hal itu sekedar mengingatkan dirinya kepada sang ayah yang juga berprofesi serupa seperti orang-orang itu.


“Linggih,” [16] ucap Tisna mempersilakan.

Mamad dan Enal mengangguk pelan, “Teh Tisna teh tinggal sama siapa?” tanya Mamad.

“Sendiri,” jawab Tisna singkat.

“Ayah? Ibu?” tanya Mamad lagi.

Tisna menggeleng, “Maaf…”

“Mereka di kampung.” tukas Tisna sebelum Mamad berkata-kata.

“Saya itu sama seperti kalian, saya dipaksa menjadi seorang polisi oleh ayah saya yang seorang polisi. Saya menolak karena saya memiliki cita-cita sendiri, cita-cita yang membuat saya diusir dari rumah. Ah, tanpa itu pun saya juga pasti diusir karena dianggap tidak berguna,” Tisna mulai mencerocos.

Mamad mulai memindahkan nasi goreng yang masih mengepul itu ke piring di hadapannya, “Memang cita-cita teteh apa?” tanya Mamad.

“Oh, iya. Kami gak dipaksa sama siapapun kok,” Mamad menambahkan.

Tisna menatap Mamad, “Bagus kalau kalian tidak dipaksa dan tidak terpaksa. Cita-citaku, pengen jadi koki.” ia menjawab seraya memandangi masakan di depannya.

“Wah, saya jadi gak sabar pengen coba makanan ini,” ucap Mamad bersemangat.

Enal berdeham, “Tapi ada lo teh, yang pengen banget jadi polisi demi cinta,” katanya.

Dahi Tisna berkerut, ia giliran memandang Enal, “Cinta sama negara kan, maksud kamu? Indonesia,” tanyanya serius.

Enal menggeleng, “Seorang perempuan cantik,” ucapnya, nada bicaranya seolah mengeja.

Mamad terbatuk-batuk mendengar jawaban Enal, ia langsung menyimpulkan bahwa Enal tengah membicarakan tentang dirinya. “Nginem hela cais bodasna,” [17] perintah Tisna.


Mamad pun menegak air putih di sebelah piringnya, ia bahkan langsung menghabiskan semuanya saking inginnya cepat terbebas dari batuknya itu.


“Sudahlah, lebih baik kita makan dulu saja, bicaranya nanti,” ucap Mamad.

Enal menyeringai, “Dasar,” gumamnya.


Mamad yang menyuruh Tisna dan Enal untuk berhenti berbicara dan lekas makan malah mengehentikan aktifitas makannya, ia tengah membuka pesan yang masuk ke ponselnya. Pesan itu dari Dissa. D-I-S-S-A, Mamad langsung tersenyum melihat gambar amplop warna kuning berkedip-kedip di ponselnya dengan nama itu sebagai pengirimnya.


From Dissa :


Kamu di mana? Bisa gak kita ketemuan di dekat taman kota? Aku sudah siapin formulir buat kamu dan Enal. Kamu sudah dapat kos kan?


To Dissa :


Bisa, hatur nuhun, geulis. Sudah.


From Dissa :


Jam 2 ya, jangan lupa!


Mamad mengunci ponselnya setelah membaca pesan pengingat dari Dissa itu, ia pun kembali melanjutkan aktifitasnya menikmati sarapan nasi goreng buatan Tisna, saat itulah ia menyadari masakan Tisna memang enak.


“Dari Ajeng?” tanya Enal.

Mamad menggeleng, “Dissa,” jawabnya.


Entah kenapa pertanyaan Enal membuat dirinya begitu rindu dengan sosok sahabat satu itu, ia pun mengingat ikrar di beranda rumah Ajeng dan tersenyum saat itu juga.


Mamad meraih ponsel di meja itu, “Sebentar ya… Teh, Nal,” pamitnya kepada Tisna dan Enal.


Di depan rumah Tisna, Mamad membuka lagi ponselnya dan ia mencari satu nama di daftar kontaknya, “Ajeng”.


Butuh waktu sekitar setengah menit lamanya sampai orang di kejauhan sana mengangkat teleponnya, “Halo, gimana kabarnya? Udah dapet kos kan? Kenapa telepon, udah jadi polisi ya?” tanya Ajeng bertubi-tubi.


Hanya itulah yang ingin Mamad dengar, perlahan ia merasa segala sesuatunya baik-baik saja.


13 Makan dulu, ganteng. Sudah saya siapkan di meja

14 Tidak apa-apa

15 Ayo, atuh. Makan

16 Duduk

17 Minum dulu air putihnya