Diposkan pada Cerpen

Empat Puluh Delapan Hari


Pertemuan lelaki itu dengan seorang manusia, kakek tua, membuat segala sesuatunya—terutama tentang manusia—berubah. Lelaki itu kini mempunyai seorang ayah tiri, ia memikili rumah bahkan memiliki sebuah nama dan berpakaian layaknya manusia.

Namanya Pradipta, nama pemberian ayah angkatnya. Ia mengorbankan ribuan tahun yang ditukar dengan empat puluh delapan hari saja hanya untuk balas dendam. Seorang manusia telah menangkap ayahnya lantas membawanya pulang, tentu saja untuk dimakan. Sang ayah sudah berumur ribuan tahun—andai si penangkap itu tahu—sementara tubuh sang ayah juga berbeda dari yang lainnya yang kurus dan kering. Sang ayah bertubuh gempal, sesiapa pasti berpikir untuk menjadikan ayah Pradipta menjadi sajian di meja makan baik dibakar atau digoreng, semua sama saja. Ayah Pradipta bakal mati juga akhirnya.
“Kau bukan anakku lagi jika tetap memutuskan untuk balas dendam.”

Pradipta bangkit dari tempat duduknya, “Maaf, Yah. Tapi manusia-manusia itu pasti akan melakukan hal yang sama pada kaumku jika aku tidak melakukan ini,” katanya.
Pintu rumah terbuka, kakek tua menujuk cahaya yang berkilauan di luar sana. Pradipta berjalan ke arah pintu bercahaya itu seraya menunduk, tersedih; tanpa kata, tanpa salam perpisahan bahkan sekedar kata seperti ‘terima kasih’ untuk merawatnya selama ini. Tak hanya itu saja yang di lupa, Pradipta juga melupakan satu hal penting. Bahwa kakek tua, ayah angkatnya itu, juga merupakan seorang manusia.
✳✳✳
Kau baru saja selesai menebar bebunga dan menyiram air di pusara ayahmu ketika Pradipta, seorang dengan wajah bersinar, itu menghampirimu.
Di perjalanan pulang;
“Kau tahu, sebelum meninggal, ayahku sempat mengatakan permohonannya?” tanyamu.

Pradipta menoleh, “Apa itu?” tanyanya dengan wajah bebal.

“Ayah meminta ikan mas, aku mencarinya sendiri di danau dan memasaknya. Dan kau tahu, ikan mas itu…”
Kau terlalu asik bercerita, sampai tak sadar bahwa saat ini Pradipta tengah memegangi dadanya yang kesakitan. Lalu ketika kau menoleh, buru-buru ia akan menyingkirkan tangannya dari dada dan menerbitkan simpul senyum seraya berkata, ‘aku mendengarmu, kok!’ agar terbebas dari omelanmu dari sore hari itu sampai sore di hari berikutnya.
Kau terus bercerita, kali ini Pradipta mengepalkan kedua tangan saking kesalnya.
“Jadi memang benar?” gumamnya.
Seorang lelaki paruh baya menghadang langkahmu dan Pradipta yang masih saja hanyut akan pemikiran sendiri, lelaki itu menatap Pradipta lekat-lekat dan kau butuh untuk menepuk pundak kekasihmu itu untuk membuatnya tersadar.
Pradipta nampak terkejut, “Ada apa?” tanyanya.
Ia memandang ke depan dan kedua matanya langsung berkaca-kaca. Lelaki di depannya itu tersenyum, ia lantas menghambur dan menjatuhkan rindu dalam pelukan tererat setalah sekian lama tiada sua.
“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Pradipta setengah berbisik.

“Aku melakukan hal yang kau lakukan,” jawabnya.

Pradipta melepas pelukan lelaki itu, “Bodoh!!!” makinya seraya melayangkan kepalan tangan sebelum mendaratkannya ke wajah lelaki itu.
Sembari menyeka darah di mulutnya, lelaki itu malah tersenyum. Sementara kau terpegan, tak tahu apa yang terjadi. Lelaki itu hanya memeluk kekasihmu, tapi Pradipta, kekasihmu itu, seperti melihat musuh terbesar dalam hidupnya sehingga ia merasa perlu memberikan si lelaki ini bogem mentah di wajah hingga berdarah-darah.
Lelaki itu bangkit, “Apa perlu aku membunuhnya sekarang!!!” teriaknya seraya menyeringai.

Pradipta memegangi kedua lenganmu, “Pulanglah, sekarang!” katanya, setengah berteriak.
Tentu saja kau terkesiap, ini adalah kali pertama kau mendapati Pradipta seserius itu. Kau pun hanya dapat mengangguk, berlari sembari menyeka air mata sebelum jatuh menapaki bumi.
✳✳✳
Segala sesuatunya di hutan di dekat danau itu terlempar ke udara sebelum jatuh mengarah pada Pradipta dan lelaki paruh baya. Tidak mudah bagimu menurut pada siapapun, kepada Pradipta sekalipun. Apalagi jika kau merasa ada yang berbeda dari biasanya, kau pasti akan mencari selaksa tanya tak terjawab itu hingga kau temui titik terang.
Setelah saling lempar-melempar benda alam, Pradipta dan lelaki paruh baya giliran saling baku hantam. Wajah mereka sama-sama membiru, kau merasa seperti orang bodoh karena hanya bisa terus mengintai dari sebalik pohon besar.

Sampai akhirnya, Pradipta lengah dan seragan paling kuat itu menjatuhkannya berkali-kali sampai ia tak bisa bangkit lagi.
Lelaki paruh baya itu mengangkat Pradipta ke udara sebelum mencekiknya, “Bagaimana? Aku yang menang, aku boleh membunuhnya bukan?” tanyanya.

Pradipta berusaha keras mengelak meski sia-sia sebab tenaganya telah terkuras, “T–idak!” katanya.

Lelaki paruh baya itu menghempaskan Pradipta ke tanah, “Kenapa?!!!” tanyanya.

Pradipta yang tersungkur itu masih berusaha terus menjawab, “Aku mencintainya, Paman.”

“Bodoh. Jadi kau mengorbankan hidup beribu tahun hanya untuk mencintai gadis yang bahkan telah membunuh ayahmu?”
Misteri-misteri itu mulai tersingkap dari benakmu, tentu saja kau diserang haru biru dan air matamu membanjir mengetahui kenyataan. Bahwa; ikan mas yang pernah kau tangkap ialah ayah Pradipta, Pradipta dan orang itu adalah ikan mas pula, mereka datang untuk membunuhmu dan barangkali Pradipta tidak pernah benar-benar mencintaimu.
Dalam kesedihan yang teramat sangat itu kau ingin berlari, tapi langkahmu segera tersekat begitu sebuah tangan memegang lenganmu lantas menarikmu sebelum kau dilemparkan ke awang-awang dan tak bergerak lagi.
“Tidak!!!” teriak Pradipta.
Pradipta mencoba bangkit, tetapi tubuh yang lemah itu sudah tak dapat apa-apa selain merangkak perlahan-lahan. Di saat yang sama, lelaki paruh baya pun menghampirimu dan debaran jantungmu semakin memburu.
“Bunuh aku saja, Paman! Jangan dia!!!”
Pradipta menoleh ketika tangan-tangannya terpegang, dua orang bertubuh besar tersenyum kepadanya setelah menunduk pertanda hormat.
“Mana bisa, kau ini seorang pangeran kerajaan, sekalipun empat puluh delapan hari yang tersisa itu tinggal beberapa hari saja.”
Pradipta dibawa oleh kedua orang bertubuh besar yang seorang pengawal itu, ia hanya bisa pasrah sembari sesekali menoleh dan terlihat air matanya membanjir.

Sementara itu kau diikat lantas diletakkan di sebuah tumpukan kayu sebelum kulihat nyala api membara. Malam tergelar setelahnya, rerintik bintang dan sinar bulan tertata apik di langit telah melengserkan tahtaku. Tentu saja aku tak tahu apa yang terjadi padamu.
Akankah kini ikan itu giliran memasakmu dengan membakarmu? Esok paati ‘kan kutemukan jawabnya.
Selesai