Posted in Cerita Pendek, Cerpen

Merry Christmas and I Love You Part 1


​Hari ini adalah hari minggu, hari dimana seorang melakukan aktifitas ibadah di gereja.
“Tok! tok! tok!” Gracia mengetuk pintu mereka.

“Anak-anak, ayo cepetan nanti kita terlambat lho.” kata Gracia.

“Iya mi, bentar lagi.” teriak mereka hampir bersamaan.

“Aduuuh!!! Cepetan donk, udah jam berapa ini?” tanya Gracia yang mulai gelisah.

“Iya mi, bentar lagi nih.” jawab Natalia.
Lalu mereka keluar dari kamar mereka. Nama mereka Natalita dan Natalia. Gracia lebih sering memanggil mereka dengan panggilan Lita dan Lia saja.
“Nah, gimana mi? Kita udah gak mirip kan?” tanya Lita.
Gracia yang saat itu tengah meneguk teh hangat, bahkan sampai memuncratkannya ketika melihat dandanan Lita. Lita malah menggunakan baju serba hitam dengan make up seram yang terlihat seram.
“Aduh… Kamu ini apa-apaan sih Lita? Kita ini mau ke gereja, bukannya nonton konser band metal.” kata Gracia.

”Habisnya, aku gak mau kalau di bilang mirip sama Lia.” kata Lita.

“Dasar aneh lu, ke gereja kok pake baju kek gitu. Dan satu lagi, yang ada gue tahu yang ogah dibilang mirip ama elu.” kata Lia.

“Eh… eh… Lia gak boleh ngomong gitu sama kakaknya, ayo minta maaf.” kata Gracia.

“Tapi mah…” renggek Lia.

“Cepet minta maaf!” kata Gracia lagi.

“Hehehe…” Lita tertawa.

“Iya, iya.” kata Lia.
Dengan terpaksa Lia memeluk  kakaknya, dapat Gracia dengar percakapan mereka saat berpelukan walaupun samar.

Lia berbisik, 
“Gue bales lu nanti!” kata Lia

“Coba saja kalau bisa.” kata Lita.
Gracia yang mendengarnya mencoba menghentikan percakapan mereka.
“Ehem… ehem…”

“Oh, kakaku yang cantik. I love u?” kata Lia.

“I love u too.” jawab Lita.

“Rasanya gue mau muntah bilang yang barusan.” bisik Lia

“Sama.” tambah Lita.
Lalu mereka menuju ke meja makan untuk sarapan.
“Kalian duluan ya, mami mau panggil papi dulu.”

“Iya mi.” jawab mereka.
Ketika Gracia hampir sampai di ujung tangga, tiba-tiba kepalanya terasa sakit. Pandangannya kabur, ia jatuh dari tangga yang cukup tinggi.

Saat bangun, Gracia melihat seorang pria tampan tersenyum kepadanya dan dua anak perempuan yang wajahnya sama yang juga tersenyum kepadanya.
“Kalian siapa?” tanya Gracia.
Mereka terlihat kaget, rauk muka mereka seketika berubah, dan senyuman diwajah mereka kini hilang dan berganti ekpresi wajah yang datar.

Melihat Gracia yang telah tersadar, Samuel pun memanggil dokter.
“Saya dimana? kalian siapa?” tanya Gracia.

“Ini aku mah Lita, dan ini Lia.”

“Ini papi mi, mami kenapa mi?” tanya Samuel.

“Saya tidak kenal kalian!” kata Gracia.
Ekpresi mereka berubah lagi menjadi sedih, Samuel menggenggam erat tangan Gracia. Dan dua anak perempuan kembar itu saling terisak dan mulai meneteskan air mata.

Advertisements
Posted in Cerita Pendek, Cerpen

Race and Love

Intan sangat marah karena Ferry pacarnya ketahuan balapan lagi. Selama ini ia telah berjanji tidak akan melakukan hal itu, tapi kenyataannya dia tetap melakukannya.
“Beb, maafin aku. Aku janji gak akan balapan lagi.” kata Ferry.
Tiara hanya diam, ia acuh. Lalu bergegas pergi dari sana.
“Beb?” panggil Ferry.
Ferry lantas berlari mengejar Tiara lalu memeluknya.
“Maaf beb, maafin aku.” kata Ferry.

“Aku cuma gak mau sesuatu yang buruk terjadi, aku tak mau kehilangan kamu. Aku gak bisa tanpa kamu beb.” Kata Tiara.
Air mata Tiara berlinang.
“Ya ampun, sampe segitunya kamu beb.” kata Ferry dalam hati sembari menghapus air mata itu.
Hari itu mereka kembali berbaikan, semuanya kembali seperti semula.

Sampai pada akhirnya, hari itu…
“Eh, Tan. Loe udah tau belum, kalau Ferry juara 1 lomba balap motor tahun ini?” tanya seorang teman pada Intan.

“Balapan?” tanya Intan.

“Iya, loe liat aja sendiri nih.” kata teman Intan sambil memberikan sebuah koran.
Dalam koran tersebut ada foto Ferry yang memegang sebuah piala. Intan tak habis fikir, ternyata Ferry tak menepati janjinya.

Sementara Ferry panik lantaran ia tahu bahwa potret kemenangannya di terbitkan di koran.
“Semoga Intan belum melihatnya.” kata Ferry.
Ferry mencari-cari keberadaan Intan, Intan saat itu ada di sebuah taman.
“Beb, aku mau ngomong sesuatu sama kamu.” kata Ferry.
Dan,
“Plakkk!!!” Ferry mendapatkan tamparan keras di wajahnya.
“Ini apa!!!?” tanya Intan sambil memberikan koran itu.
Ferry melihat koran tersebut.
“Jadi kamu udah tahu?” tanya Ferry.

“Bodo. Maksud kamu apa ya? Kamu kok balapan lagi?” tanya Intan.

“Maaf beb, habisnya aku butuh uang. Kali ini aku sungguhan janji beb, balapan sekali lagi dan gak akan pernah lagi.” kata Ferry.

“Apa! Sekali lagi? Kamu ini bagaimana, memangnya tidak ada cara lain selain balapan? Janji dalam hal kecil seperti ini saja kamu gak bisa nepatin. Kamu itu gak serius, mendingan kita udahan aja deh. Aku gak peduli kamu mau balapan kek, mau mati sekalian. Bodo amat, aku sudah tidak peduli.” Kata Intan.
Intan pergi meninggalkan Ferry sendirian disana.

Sementara itu Ferry tak dapat berkata-kata lagi. Hatinya hancur mendengar perkataan kekasihnya tadi.
Di tempat balapan…
“Good luck ya, Fer.” kata Boni, salah satu teman Ferry.

“Thanks ya, Bon.” kata Ferry.

“Oh iya Bon, gue boleh minta tolong gak?” tanya Ferry.

“Boleh, minta tolong apa Fer?” tanya Boni.

“Gue mohon sama loe, tolong loe sampein permintaan maaf gue buat Intan.” kata Ferry.

“Kenapa gak minta maaf sendiri aja?” tanya Boni.

“Gue serius bon.” kata Ferry.

“Iya deh nanti gue pasti bilang ke Intan.” kata Boni.

“Thanks ya bon sekali lagi.” kata Ferry.

“Iya.” kata Boni.

“Kok Ferry aneh gitu ya?” tanya Boni dalam hati.
Balapan itupun dimulai, dan seperti biasanya Ferry ada di posisi pertama.

Akan tetapi di lap terakhir tiba-tiba motornya jatuh, sontak kejadian itu membuat semua orang berteriak histeris.
Ketika Intan membuka hpnya, terdapat satu pesan masuk. Disana juga ada 16 misscall dari Boni.

Intan pun membuka pesan itu.
“Tan, loe ke rumah sakit harapan sekarang, ya. Ferry kecelakaan…”
Intan pun bergegas ke rumah sakit.
“Gimana keada’an Ferry, Bon?” tanya Intan.
Ferry tak langsung menjawab, ia terdiam setelah beberapa saat. Sampai akhirnya ia mengumpulkan sisa kekuatannya untuk mengatakan yang terjadi pada Intan.
“Ferry kecelakaan, dia terluka parah, dan dia meninggal dunia.” kata Boni sembari menepuk pundak Intan.

“Kamu yang sabar ya, Tan.” tambah Boni.
Terlintas di dalam pikirannya tentang seberkas kenangan kebersamaan dengan Ferry, tentang mimpi dan harapan yang kini harus musnah begitu saja.

Jantung serta nafas Intan memburu, sampai tubuhnya lemas dan terjatuh ke lantai.
Selesai.

Posted in Cerita Pendek, Cerpen

Wanita Pencari Kesempurnaan

 

Bakhri duduk di meja makan, hendak sarapan. Ia membuka tudung saji itu dan ternyata hanya ada nasi putih saja. Bahkan tempe goreng favoritnya yang murah pun tiada tersaji disana.

Bakhri melihat ke arah Wulan yang tengah sibuk bermain handphone saat ini.
“Lauknya mana, Neng?” tanya Bakhri.

“Gak ada. Kamu makan apa adanya aja, uang yang kamu kasih gak cukup buat beli lauk.” jawab Wulan.

“Tapi kan, aku kasih kamu lima ratus ribu!” protes Bakhri.

“Uang terakhir yang aku punya.” tambahnya dalam hati.

“Bahkan uang segitu gak cukup buat beli make up. Gak bisa bikin aku bahagia.” kata Wulan.

“Kalau gak cakep aja, lu pasti udah gue buang, Bakhri.” batin Wulan.
Hati Bakhri tersentak, bagai di serang sesuatu yang tak dapat ia hindari.

Akhirnya sarapan pagi itu ia nikmati dengan hanya makan nasi putih saja.

Sementara itu Wulan pergi menjauh dan berbicara dengan seseorang melalui telepon.
“Gue gak bisa, Nit. Dia itu cakep banget”

“Ya elah! Yang kaya gitu mah, cerai’in aja. Wulan, lelaki yang cuma cakep doang, itu gak cukup. Harus cakep dan tajir. Harus sempurna. Lagian lu juga hidup sama laki yang cakep apa lu bahagia? Kagak pan? Rumah juga, lu yang punya. Apa-apa lu yang sedia’in, bukan laki lu.”

“Dulu lu udah gua kasih tahu gak dengerin sih, sekarang tanggung sendiri akibatnya.” tambah Nita.

“Nita, bener juga.” batin Wulan.

“Gua pikirin dah, Nit. Makasih ye!” kata Wulan.
Sambungan telepon itu pun berakhir, dan Wulan masih belum tahu kepututusan apa yang akan ia ambil.
❇❇❇
Sore harinya…
“Assalamu’alaikum?” Bakhri memgetuk pintu.

“Wa’alaikumsalam.” jawab Wulan.
Bakhri membuka pintu itu, nampak wajahnya penuh akan peluh karena seharian ini ia berkeliling mencari pekerjaan dari kantor satu ke kantor yang lainnya.
“Gimana… Udah dapat pekerjaan?” tanya Wulan.

“Belum, Neng.” jawab Bakhri.

“Kalau kamu gini terus, kita mau makan apa?” ucap Wulan seraya meninggalkan Bakhri.
Hari berikutnya…
Bakhri membuka pintu lalu masuk dengan wajah sumringah penuh semangat.
“Nang, kamu dimana?” tanya Bakhri.
Bakhri mendapati istrinya duduk di teras belakang rumahnya.

Bakhri pun duduk di sebelahnya dan bersiap menceritakan keberhasilannya.

Belum sempat Bakhri bercerita, Wulan melayangkan sebuah map berwarna merah muda dan diletakkan di meja, di depan Bakhri.
“Kamu baca!” ucap Wulan.

“Apa ini?” tanya Bakhri.

“Buka aja!” jawab Wulan.
Bakhri pun membuka map itu, disana tertera sebuah judul dengan huruf kapital yang tebal bertuliskan “AKTA PERCERAIAN”. Disana juga sudah ada sebuah tanda tangan Wulan, Ekpresi wajah Bakhri seketika berubah. Nafas serta jantungnya memburu.
“Maksud kamu apa?” tanya Bakhri.

“Sudah jelas bukan? Aku mau kita cerai.”

“Tapi, Neng. Kenapa? Ada apa? Kalau ada masalah, lebih baik kita bicarakan. Jangan seketika langsung mengambil keputusan.” kata Bakhri.

“Tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan. Semuanya cukup sampai disini saja.
❇❇❇
Dengan menenteng koper, Bakhri berjalan menuju pintu diikuti oleh Wulan. Sesampainya di pintu, Bakhri sempat menitip pesan pada Wulan.
“Neng, saya harap kita tetap berhubungan baik meski sudah bukan suami istri lagi.” ucap Bakhri.
Wulan hanya tersenyum. Senyum yang di paksakan terlukis di wajahnya.
Bakhri pergi meninggalkan Wulan, meninggalkan rumah itu, dan impiannya yang harus ia kubur saat ini juga.
❇❇❇
Tahun demi tahun pun berlalu begitu cepat, kini Wulan telah menikah lagi dengan lelaki lain. Akan tetapi iming-iming kekayaan yang di janjikan, rupanya tidak sesuai dengan kenyataan. Wulan bahkan harus mau bekerja demi bertahan hidup.
Hari ini ia akan melamar pekerjaan di sebuah perusahaan.

Wulan tampak tegang menunggu di luar ruangan bergantian interview dengan pelamar yang lainnya.

Sampai akhirnya namanya di panggil. Wulan masuk ke ruangan yang cukup besar, nampak seorang tengah sibuk mengetik di komputernya.
“Permisi pak.” ucap Wulan.

“Silahkan duduk.” kata lelaki itu.

“Nama kamu siapa?”

“Wulan, Pak.” jawab Wulan.
Lelaki itu memutar kursinya, dan kini menatap Wulan.
“Wulan.”

“Bakhri.” ucap Wulan.
Jantung Wulan berdegub kencang, dan ia semakin gugup setelah tahu bahwa bos nya adalah Bakhri.

Meski beetahun-tahun Wulan tak bertemu, namun Bakhri nampak sama, wajah tampan dengan penampilan serba rapi.
“Kamu kok nglamar kerja?” tanya Bakhri.

“Banyak hal yang terjadi.” jawab Wulan setenang mungkin.

“Aku ikut senang kalau pada akhirnya kamu bisa berubah menjadi lebih baik.” ucap Bakhri.
Wulan tersenyum.
“Kalau bukan karena terpaksa, gua juga ogah kali.” batin Wulan.
Terlintas rasa menyesal dalam hati Wulan. Jika saja ia tahu bahwa Bakhri akan sukses seperti saat ini, ia takkan pernah menceraikannya.
Selesai.

Posted in Cerita Pendek, Cerpen

Bintang Part 9 : Awal Yang Baru

​Pada suatu ketika, Bintang menghampiri ayahnya di ruangannya.
“Ayah, saya mau bicara, penting!” kata Bintang.

“Bicara apa, Bin?” tanya Adit.
Bintang menarik nafas dalam,
“Saya sudah memutuskan, saya akan kuliah s2 di luar negeri.” kata Bintang.

“Baiklah kalau begitu, ayah akan menuruti semua kemauan kamu.” kata Adit.
“Barang kali kamu ingin menjauh dari Dewi.” ucap Adit dalam hati.
Suatu kesempatan Gina pernah memberitahukan perihal hubungan Bintang dengan Dewi. Adit sempat terkejut, pantas saja bila sikap mereka berbeda setelah saling tahu bahwa mereka saudara.
⭐⭐⭐
Hari ini adalah hari dimana Bintang akan berangkat ke luar negeri.
Dewi duduk di taman di dekat danau, di tempat favouritnya dengan Bintang itu. Termenung, terdiam, dan melamun. Mencerna sisa kenyataan yang sulit untuk di terima.

Bintang berjalan menghampiri Dewi lalu duduk di sampingnya.
“Hari ini aku berangkat ke London. Kamu gak mau nganter ke bandara?” tanya Bintang.
Dewi hanya terdiam beberapa saat lamanya.
“Aku pergi dulu ya… Sampai jumpa lagi.” kata Bintang.
Bahkan sampai Bintang berlalu pun Dewi masih saja terdiam. Hanya air matanya yang kini mengalir deras.
⭐⭐⭐
“Saya berangkat dulu.” ucap Bintang pada Adit dan Gina.
Bintang berjalan menjauhi mereka, sampai akhirnya…
“Bintang!” panggil Adit.
Adit memeluk erat tubuh Bintang, baru beberapa hari yang lalu ia bertemu dengan Bintang dan hari ini harus berpisah lagi.
“Jaga diri kamu baik-baik.” ucap Adit.

“Baik, yah.” kata Bintang.
Bintang pun melanjutkan langkahnya, hingga perlahan siluet sosoknya menghilang pada eskalator yang berjalan menuruni tangga.
Dewi berlari kencang menuju ke arah ayah dan ibunya.
“Bintang mana?” tanya Dewi dengan nafas tak beraturan.

“Bintang sudah pergi sayang.” jawab Gina.
Jantung Dewi memburu, Dewi berlari keluar. Setidaknya ia masih bisa melihat pesawat yang di naiki Bintang melintas.

Sesampainya di luar, Dewi melambaikan tangan pada satu-satunya yang melintas di langit sana.
“Bintang, selamat tinggal. Ini adalah awal yang baru bagi kita.” ucap Dewi seraya menyeka air mata yang jatuh.
Selesai.

Posted in Cerita Pendek, Cerpen, Cinta, Family, Keluarga, Love, Novel, Tak Berkategori

Bintang Part 6 : Pulang Kampung


Di teras lantai dua, Adit duduk santai sembari asik memandangi sebuah gambar di handphonenya. Gina yang melihat mendekat hati-hati, kedua tanggannya ia angkat ke atas hingga berada tepat di atas pundak Adit dan bersiap mengagetkan Adit.

Belum sempat ia mengejutkan Adit, ia di buat terkejut setelah melihat gambar di hp Adit. Gambar itu berasal dari masa lalu, orang yang ia kenal sekaligus benci dan orang yang sangat di cintai Adit.

Gina langsung murka, ia merebut handphone itu lalu seketika membantingnya ke lantai hingga hancur.
“Jadi kamu masih simpan foto orang itu?” tanya Gina.

“Ini gak seperti apa yang kamu lihat.” jawab Adit.

“Alah. Mengaku sajalah.”

“Terserah kamu. Yang pasti ini benar-benar tidak seperti apa yang kamu lihat dan pikirkan. Aku mencintai kamu, cukuplah Dewi sebagai buktinya. Mirna hanya masa lalu, dan aku hanya ingat tentang anaknya, anakku, anak kami.” kata Adit.
Adit pun berlalu meninggalkan Gina sendirian disana, mendengar kata terakhir Adit, Gina menyesal dengan apa yang telah ia lakukan. Imbas dari kejadian itu, Adit seperti menjauhi Gina. Semuanya berubah seketika.
⭐⭐⭐
Pagi itu…
Sepiring nasi goreng yang masih mengepul berada di meja makan, Adit tak menyentuhnya sama sekali, bahkan melirik saja pun tidak. Ia hanya menimati segelas susu, mencium kening Dewi lalu pergi meninggalkan semuanya.
“Kamu gak makan, Dit?” tanya Gina.
Adit tak menjawab bertanyaan Gina seolah tiada orang yang bicara, ia terus saja berjalan menuju pintu.

Gina berlari mengejar Adit, meraih tangannya dan kini mereka saling berhadapan.
“Aku tahu aku salah, aku minta maaf, aku hanya… aku hanya gak mau kehilangan kamu.” kata Gina terbata sembari memeluk Adit.

“Aku minta maaf.” tambah Gina.

“Aku juga minta maaf, mungkin gak seharusnya aku kaya gini sama kamu.” kata Adit.
Dewi yang melihat hal itu merasa aneh, tidal biasanya mereka drama-drama seperti sekarang ini. Dia pun menghampiri ayah dan bundanya.
“Ini ada apa sih?” tanya Dewi penasaran.

“Gak ada apa-apa sayang. Sini sini ikut pelukan.” kata Adit.
Mereka bertiga pun berpelukan, segala sesuatunya kembali seperti semula.
“Carilah anak itu, Dit.” bisik Gina.

“Baik.”
⭐⭐⭐
Malam harinya…
Sebelum pulang dari kantor, Adit memberitahukan sebuah pengumuman.

Semuanya berkumpul di aula kantor ‘Aditya Home Design’.
“Ok semuanya. Jadi mulai mulai senin besok, kantor kita libur satu minggu.”
Terdengar sorak gembira di ruangan itu,
“Saya sudah menyiapkan paket liburan untuk kalian pergi ke Jogja. So, enjoy your holiday!” tambah Adit.
“Yesss!”

“Wiiih, Jogja cuy.”

“Malioboro.”

“Parang tritis.” celetuk para karyawan bergantian.

“Saya gak ikut liburan ya, Pak. Saya mau pulang kampung saja.” kata Bintang.

“Ya, Bin. Terserah kamu. Tapi kalau kamu berubah pikiran, bilang sama saya.” kata Adit.

“Iya, Pak.”

“Yah… kok gak ikut, Bin. Ini liburan perdana kamu bareng kita lho.” kata salah satu rekan kerjanya.

“Maaf bang, habisnya sudah lama gak jenguk abah. Mungkin next time.” kata Bintang.
⭐⭐⭐
Sebelum pulang, Adit menyempatkan mampir ke toko buku langganannya. Disana melihat beberapa buku keluaran terbaru. Di sebuah pojok ruangan ia melihat seseorang wanita yang tak asing di mata meski ia tak mengenalnya, wanita itu adalah seseorang yang selalu bersama Mirna. Selama ini Adit telah bertanya pada karyawan kantornya yang mengenal Mirna, tapi hasilnya nihil. Adit tahu bahwa Mirna pulang ke kampung halamannya, tapi nama kampung dan dimama letaknya ia tak pernah tahu.

Wanita itu pun berbalik menatap Adit yang sedari tadi melihatnya, lalu seketika ia menutupi wajahnya dengan buku yang tengah ia baca.

Adit mendekati wanita itu,
“Kamu temannya Mirna kan?” tanya Adit.

“I… iya.” jawab wanita itu terbata dan pasrah.

“Kamu tahu dimana kampung Mirna?” tanya Adit lagi.

“Maaf, kata Mirna saya gak boleh ngasih tahu ke siapapun.” jawabnya.

“Saya mohon, ini penting. Saya harus mencari anak saya, saya harus memastikan bahwa ia baik-baik saja. Hanya itu yang saya ingin tahu.” kata Adit.
Mendengar kata ‘Anak’, timbul pertanyaan-pertanyaan di hati wanita itu.
“Bagaimana jika aku berada di posisi lelaki ini? Bagaimana jika aku yang kehilangan anak? Akankah aku tetap tak mau memberitahukan keberadaanya? Setega itukah aku?”
Pada akhirnya wanita itu memberitahukan keberadaan Mirna.

Posted in Cerita Pendek, Cerpen, Cinta, Family, Keluarga, Love, Novel, Tak Berkategori

Bintang Part 4 : Bintang Arya Aditya

Waktu berlalu begitu cepat, Mirna memasuki usia ke sembilan bulan kehamilannya, dan tentu saja hal tersebut menjadi omongan tetangga.
“Apa-apaan mereka itu, selalu saja membicarakan kita.”

“Sudah atuh kang, biarkan wae atuh. Nanti juga capek sendiri.” kata Mirna.

“Gak bisa gitu atuh neng, mereka teh, gak bisa di biarkab begitu wae. Kudu di hadapi.”  ucap Asep lagi.

“Aduh… aduh kang, perut aku sakit.” rintih Mirna.

“Kenapa atuh neng? mau keluar bayinya?” tanya Asep.

“Aduh… sakit kang.”

“Iya, iya, akang panggil dokter dulu.” kata Asep.
Asep pun berlari ke rumah salah seorang bidan di kampungnya, beberapa saat kemudian mereka pun sampai.
Sedari tadi Asep hanya mondar-mandir kesana-kemari, ia sangat cemas menunggu di luar kamar. Sampai akhirnya, tangisan bayi itu terdengar.
“Alkhamdulillah ya Allah… aku jadi ayah.” ucap Asep dengan riangnya.
Asep pun masuk ke dalam kamar, nampak Mirna yang terbaring lemah serta seorang bayi laki-laki yang di peluknya.
“Kang, makasih untuk semuanya. Makasih karena akang sudah mau menerima aku apa adanya. Kang, aku punya permintaan. Tolong rawatlah bayi ini seperti anak akang sendiri, sayangi dan cintai dia kang.” ucap Mirna lirih sembari memengang erat tangan Asep serta air mata yang berlinang.

“Neng teh ngomong apa? kita besarkan bayi ini sama-sama.” kata Asep.
Mirna hanya tersenyum, senyuman itu hanya sekilas saja lalu menghilang. Pegangan tangan yang erat terasa di tangan Asep itu kini tiada erat lagi, kedua mata Mirna menutup, serta bayi di sampingnya itu menangis keras. Mirna pergi di saat yang bahagia, di saat ia telah melahirkan anak ke dunia.
“Neng, neng…!!!” teriak Asep.
Asep memeluk tubuh Mirna untuk terakhir kalinya, air matanya tak terbendung lagi.
                              ⭐⭐⭐
Sepeninggal Mirna, Asep mengurus bayinya bersama ibunya yang kini tinggal di rumahnya.
“Mau di kasih nama siapa anak ini?” tanya sang ibu.

“Ehmmm…”
Asep mengingat saat malam itu, saat dimana ia duduk berdua dengan Mirna di teras depan rumah.
“Neng, kalau sudah lahir, mau di kasih nama siapa anak ini?” tanya Asep.

“Bintang Arya Aditya.” jawab Mirna mantap.

“Kenapa harus ada Bintangnya?” tanya Asep lagi.

“Aku berharap ia menjadi bintang yang bersinar di gelapnya malam, di sana.” jawab Mirna sambil menujuk ke arah bintang yang bertaburan di langit malam.

“Aku ingin dia bersinar seperti…”

“Seperti apa neng?” tanya Asep.

“Ayahnya.” jawab Mirna dalam hati.

“Akh, enggak kang. Lupakan saja.” jawab Mirna sambil tersenyum.
“Bintang Arya Aditya” jawab Asep.
Selesai.

Posted in Cerita Pendek, Cerpen, Cinta, Family, Keluarga, Love, Novel, Tak Berkategori

Bintang Part 3 : Cinta Akan Datang Sendiri


Mirna duduk di sebuah bangku di taman, Adit pun menghampirinya.
“Ada apa kamu suruh aku kesini?” tanya Adit.

“Aku sudah memutuskan, aku akan tinggal di kampung.” kata Mirna.

“Kenapa? bukankah kita akan menikah?” tanya Adit lagi.

“Aku gak bisa, aku gak bisa berbahagia sementara orang lain terluka karena kebahagiaanku. Aku mencintai kamu, tapi aku tak ingin cinta ini menyakiti orang lain.” jawab Mirna.

“Dit, menikahlah dengan Gina, dia sangat mencintai kamu.” kata Mirna lagi.
Mirna pun memeluk Adit, pelukan yang mungkin adalah pelukan yang terakhir kali. Lalu Mirna berjalan menjauhi Adit, akan tetapi Adit berlari mengejarnya dan memeluknya dari belakang.
“Kamu gak bisa kaya gini, kamu gak bisa tinggalin aku begitu saja. Aku mencintai kamu memang belum lama, tapi cinta itu tulus, cinta itu murni.” kata Adit sambil terus memeluk Mirna.
Mirna melepas tangan yang melingkar di perutnya itu, lalu berbalik dan memegangi wajah Adit dengan kedua tangannya. Di tataplah Adit, walau sebenarnya hal ini akan membuatnya semakin sulit melupakan Adit.
“Dit, cinta itu tak hanya berbentuk memiliki, aku tahu kamu pasti tahu maksudku.”

“Aku pergi dulu.” kata Mirna.

 

                               ⭐⭐⭐
Beberapa bulan kemudian…
Di depan cermin, mereka saling di dandani. Gina terlihat sangat cantik dengan menggunakan gaun putih panjang itu. Adit pun begitu, ia semakin terlihat tampan lagi ketika memakai kemeja putih di balut dasi serta jas hitam itu.

Hari ini adalah hari tepat di mana di langsungkannya pernikahan Adit dan Gina. Senyuman menghiasi wajah Gina, karena hari bahagia itu telah tiba. Adit juga terlihat selalu tersenyum, namun bukannya senyum yang sebenarnya, melainkan senyuman palsu. Dalam hatinya ia resah, sejak pertemuan di taman itu ia tak pernah lagi bertemu dengan Mirna.
“Kamu apa kabar, Mir?” tanya Adit dalam hati.
Sementara itu, Mirna tengah berada di teras rumahnya di kampung. Berdiri melihat angin yang menghembus pohon-pohon di depan rumahnya.
“Kamu apa kabar, Dit? apakah kamu bahagia disana?” tanya Mirna dalam hati.
Lalu suara langkah kaki dari belakang terdengar mendekat.
“Neng, masuk yuk! di luar dingin ieu teh.” ajak lelaki itu.

“Iya, kang.” jawab Mirna.
Sepulangnya Mirna ke kampung, ia di lamar oleh Asep, yang tak lain adalah sahabatnya sendiri. Asep tergerak hatinya untuk menikahi Mirna setelah mendengar cerita Mirna. Semuanya terjadi begitu saja, dan pada akhirnya Mirna lah yang harus mengalah dan meninggalkan Adit.

Kini ia mencoba mencintai Asep, walau itu mungkin takkan mudah. “Cinta akan tumbuh sendiri saat dua hati disatukan dalam sebuah ikatan. ” begitu pikirnya.
Selesai.