Diposkan pada Cerpen

Petualangan Lima Elemen : Bonus


Waktu menunjukan pukul 23:55, sebentar lagi genap tengah malam dan hari yang baru terjelangi. Sepasang ayah dan anak itu ada di antara kerumunan kemacetan yang juga ingin merayakan liburan akhir pekan. Mereka tak merasakan sama sekali dinginnya angin malam, malah berpuluh-puluh lahir di tubuh karenanya. Christian pun telah lupa sama sekali dengan pekerjaannya dan ia memiliki pekerjaan baru: menggerutu.
Christian menggelengkan kepala beberapa kali, ia tak ingin hal itu terjadi kepadanya dan Zaqy di hari kebersamaan.
“Ada apa?” tanya Zaqy.

Christian yang sedikit terkejut itu menoleh, “Ah, tidak. Aku hanya sedang memikirkan apa yang akan kita lakukan,” katanya.

Zaqy nampak mengangguk-angguk, “Apa kau tahu, kenapa aku memilih untuk tinggal di gedung paling tinggi di kota ini?” giliran Christian yang bertanya.

“Karena kau tak takut ketinggian,” jawab Zaqy, singkat.
Tentu saja. Jawaban yang terlalu standar. Batin Christian.
Christian menyembunyikan kesal dalam senyum ranumnya, “Bukan. Tapi karena ini adalah impian ibumu,” tuturnya.

Zaqy tercenung mendengar seseorang yang telah lama hilang dari hidupnya itu diungkit lagi, “Benarkah?” tanya Zaqy.
Christian mengangguk. Ia berjalan menghala Zaqy dan duduk di samping anak semata wayangnya itu.
“Ibumu itu, dia memiliki impian hidup di tempat yang tinggi semacam gedung apartemen ini. Katanya, dari atap kita bisa melihat kota-kota—kerlap kerlip lampu indahnya, ketika bulan penuh dan bintang bertaburan di langit. Di sore hari juga ada senja yang indah. Di pagi hari ada sunrise yang tak kalah indahnya, kalau kita tak malas bangun tidur.” Christian tersenyum dengan kata-kata terakhir, itu adalah kata mendiang istri yang ditunjukan kepadanya.

Christian menyeka ujung mata, “Bahkan…”

“Bahkan?”

“Ketika mendung pun, pemandangan dari ketinggian tetaplah indah.”
Zaqy bangkit, Christian sontak mendongak. Namun, ia tak bisa menanyakan alasan Zaqy. Akhirnya ia hanya memegang tangan Zaqy, mencegah agar ia tak sampai pergi.
“Ayo kita ke atap!” ajak Zaqy.

“Apa?”

Zaqy menoleh pada ayahnya, “Sekarang jam 05:30. Kita akan melihat apa yang sangat ibu suka,” katanya.
Christian melihat kilat di mata Zaqy, menandakan bahwa kedua mata itu tengah berkaca-kaca. Ia mahfum, betapa rindu pasti menggebu-gebu. Tapi ia tak pun tak mengerti sama sekali betapa tersiksanya, ketika Zaqy bahkan belum pernah bersua dengan ibunya sejak ia jejakkan kaki ke dunia.
Lift itu membawa Christian dan Zaqy sampai ke atap gedung hanya dalam hitungan detik.
“Apa kau merindukannya?”
Christian sontak menoleh ketika pertanyaan itu dilontarkan, Harusnya aku yang mengatakannya, bukan? Meski aku sudah tahu pasti sangat-sangat merindukannya. Batinnya.
Christian tak urung mengangguk, “Tante Lisa, walaupun ia sempat tak mengakuiku namun sekarang ia sudah benar-benar jadi ibuku,” Zaqy memalingkan pandangan ketika mengatakannya.
Dan Christian, sekalipun ia tersenyum tidak ada yang tahu betapa hatinya remuk karena bukan ibu kandung Zaqy sendiri yang menjadi ibunya.
“Paman Han juga, ia menyuruhku memenggilnya dengan titel ‘ayah’. Aku melakukannya dan aku benar-benar memiliki seorang ayah sekarang. Ayah yang lainnya.” Zaqy masih melanjutkan misinya membuat hati sang ayah lebih tenang meski kenyataan malah sebalinya.
Christian tak kuasa menahan rasa yang membeludak dalam hatinya. Ia membabi buta, menghambur dan membuat Zaqy sampai keseulitan bernafas setelah terkesiap, selain kemeja yang dikenakannya yang basah oleh air mata Christian.
“Ah, lihatlah! Senja!” seru Zaqy, mengalihkan suasana.
Christian terpaksa menyudahi pelukan yang juga penandasan rindunya itu. Christian melihat ke depan, kepada senja yang merona setelah matahari dilengserkan dari singgasananya. Malam pun mulai melepas layar, dan titik garis yang terbentuk dari bintang-bintang terbentuk setelahnya, setelah air mata sepasang ayah dan anak itu telah benar-benar kering. Mereka bertahan berdiri seperti itu, memandangi gurat oranye sampai benar-benar hilang di telan putaran pergantian masa.
“Terima kasih,” kata Zaqy, akhirnya, setelah beberapa saat lamanya udara dikuasai sang lengang.

Dahi Christian berkerut seketika, di ketika itu ia juga ingat bahwa ia tak mengajak Zaqy kemanapun seperti yang telah ia janjikan. “Untuk? Aku bahkan tak mengajakmu kemanapun hanya karena—gambaran ramalan di dalam kepalaku,” tanyaku.

Dan masih asyik memandangi sisa-sisa senja, Zaqy menjawab, “Ibu benar, ini sangat indah. Dengan begini saja, itu sudah cukup.” katanya.
Christian sedikit terkesiap ketika tangan Zaqy melewati tengkuknya sebelum mendarat di pundak dan jarak mereka sama sekali tak bersekat.
Chistian akhirnya mengamini kata-kata Zaqy, Dengan begini saja, itu sudah cukup. Katanya dalam hati.

Diposkan pada Cerbung

Petualangan Lima Elemen : 18.


Lisa tak ingin sama sekali menoleh, “Kamu harus pulang, harus selalu pulang.” jawabnya.

“Tentu saja, Lisa. Aku kan sudah berjanji,”

“Semoga kamu benar-benar menepati janji kamu itu.”
✳✳✳
Kelima elemen saling bergantian menyeka berpuluh-puluh penuh di kening mereka. Raja Volt masih dengan ketenangan tergambar di wajahnya.
“Aku punya rencana,” kata Nauval.

Zaqy segera mendekati Nauval, “Apa itu?” tanyanya.

“Aku tak yakin, tapi kita harus mencobanya.”
Nauval berbisik di telinga Zaqy dan Zaqy mendengarkannya dengan seksama.
Zaqy nampak mengangguk, “Baiklah, mari kita lakukan!” kata Zaqy.
Dari kejauhan; Lia, Dhea dan Abi saling bertanya dalam hati, mereka yang tak diajak dalam rencana Nauval tentu merasa ada sesuatu yang aneh.
Zaqy melesat ke arah raja Volt, diikuti oleh Nauval di belakangnya. Ketika Zaqy melayang dan hendak menyerang Volt, ia merasakan sakit yang begitu sakit di bagian perutnya setelah cahaya kuning menyala dan suara guntur yang keras.
Zaqy menunduk, melihat perutnya nanar, “Petir kuning,” gumamnya dengan terbatuk, mulutnya penuh darah selain perut yang terluka parah itu sendiri.
Dhea, Lia dan Abi sama-sama terpegan, mereka baru saja melihat kenyataan itu bahwa Nauval memang menyerang Zaqy, mereka bertiga bahkan sama-sama yakin mereka baru pertama kali melihat Nauval mengeluarkan petir sekuat itu.

Zaqy merasakan kedua tungkainya lemah, ia jatuh dari ketinggian dan tergeletak di hamparan rerumputan putih di planet Kamaula.
“Zaqy!!!” teriak Dhea, Lia dan Abi hampir bersamaan dan berlari ke arah Zaqy.
Sementara itu, Volt menghampiri Nauval dan dengan cepat mendekap erat Nauval yang tertunduk itu. Volt tersenyum, sesungguhnya ia belum begitu yakin akan apa yang baru saja dilihatnya, tapi ia sungguh bahagia.
Abi terus memandang pemandangan aneh itu, “Apakah kalian memikirkan hal yang sama denganku?” tanya Abi.

Lia yang sedari tadi fokus mencoba menghentikan pendarahan di perut Zaqy itu pun menoleh, “Apakah Nauval itu…”

Dhea yang biasanya tenang kini mulai panik melihat Zaqy tergeletak tak berdaya dan Nauval dalam pelukan Volt, “Apa yang harus kita lakukan sekarang?” tanyanya tergesa.

“Larilah,” ucap Zaqy masih terus terbatuk, “pulang ke Bumi. Tinggalkan saja aku.”

Abi bangkit, “Aku lebih baik mati daripada meninggalkan temanku yang sedang sekarat,” ucapnya seraya berjalan menyongsong Volt dan Nauval.

“Sekalipun ada dua petir sekarang,” Dhea pun turut bangkit dan berjalan menyusul Abi, entah kemana hilangnya kepanikan beberapa saat yang lalu.

Abi menoleh ke belakang, “Aku mengerti!” seru Lia seraya mengangguk beberapa kali.

Zaqy tersenyum sesaat, “Dasar kalian, tidak mendengarkan perintah ketua elemen,” katanya nyaris tak terdengar oleh telinga siapapun saking lirihnya.
Tanah putih di planet Kamaula terangkat, membentuk dua buah palu besar yang melayang di awang-awang dan Abi meloncat kemudian meraih kedua palu besar itu lantas melemparkannya ke arah Volt dan Nauval.

Sementara itu Dhea membentuk air yang mengelilinginya menjadi anak panah dan sepersatu dari anak panah itu meluncur ke arah Volt dan Nauval terus-menerus.
Sambil terus menghindar dari seragan bertubi-tubi yang dilancarkan Abi, Volt berkata, “Kau hadapilah elemen air itu, anakku. Aku akan menghadapi si tanah sialan ini,” ucap Volt.

Dhea dan Abi sama-sama tercengang mendengarnya, “Anak?” tanya mereka dalam hati.
Volt memejamkan mata, dalam sekejab petir putih telah menyelimuti tubuhnya.
“Ia semakin kuat,” batin Abi.
Volt tersenyum, ia memadang Abi nun jauh di sana. Secepat kilat Volt melesat, Abi bahkan tak sempat berpikir untuk menghindar. Ia terpental jauh setelah Volt memukulnya dengan petir putihnya. Seperti belum puas melempar Abi, Volt terus menuju Abi dan memukul yang tentu saja Abi terlempar kesana-kemari.
“Abi!!!” teriak Dhea.

“Kamu memang tidak pernah bisa berhenti memikirkan orang lain,” ucap Nauval tepat di telinga Dhea.

Dhea menoleh, petir kuning menyilaukan matanya. Dhea berteriak ketika petir kuning menghantam kulitnya, “Mulai sekarang, pikirkanlah dirimu juga.” ucap Nauval seraya terus menyerang dan Dhea terus berteriak kesakitan.
Di kejauhan…
Mendengar teriakan Abi dan Dhea, Zaqy mencoba bangkit, “Mereka pasti mati kalau terus begini,” katanya seraya memegangi perut, “kita harus bantu mereka,” katanya lagi.

Lia menunduk, “Bagaimana dengan kamu sendiri?” tanyanya.

“Jangan pikirkan aku, aku…”

“Aku cinta kamu.” tukas Lia.

Jantung Zaqy berhenti berdetak, “Aku tidak mau kamu mati, mereka berdua tahu perasaanku jadi mereka menyuruhku di sini merawat kamu,” tutur Lia, matanya berkaca-kaca.
Dhea dan Abi tergeletak tanpa daya di tempat yang berdekatan, Nauval mengangkat tangan ke udara dan petir kuning keluar dari tangannya.
“Ini dari ayah,” kata Volt, petir putih bersatu dengan petir kuning Nauval setelah Volt menyalurkan petir itu dari telapak tangannya.
Terciptalah petir berwarna hitam, petir paling kuat yang pernah ada. Abi dan Dhea hanya mampu menatap kekuatan maha dahsyat itu tanpa bisa mengelak lagi, hal ini adalah sesuatu yang terus mereka pikirkan sejak tadi.

Abi memegang tangan Dhea, mereka saling tersenyum meski mata mereka berkaca-kaca. Mereka lantas memejamkan mata dan tahu ketika mereka membuka mata, mereka akan ada di dunia yang baru.
“Hentikan!!!” teriak Zaqy.
Nauval menoleh, petir hitamnya semakin kuat begitu ia tahu keberadaan Zaqy.

Sementara Lia semakin erat menggenggam tangan Zaqy, ia pun memejamkan mata seperti kedua temannya.
Volt menatap ke bawah, petir hitam mendarat di dadanya, “Apa yang kau lakukan!?” tanya Volt setengah berteriak.

“Maaf, ayah. Sejak ayah membunuh ibu, ayah bukanlah ayahku lagi,” ucap Nauval.

“Kurang ajar!” umpat Volt.
Tubuh Volt hancur setelah Nauval menarik jantung ayahnya, potongan tubuh itu terlempar tak beraturan arahnya. Air mata mengaliri wajah Nauval, ia kini juga telah kehilangan ayahnya.
“Strategi yang aneh,” ucap Zaqy seraya menoleh.

Nauval tersenyum, “Maaf atas lukamu,” katanya.
Perjalanan ke Bumi itu kelima pasang sahabat saling berangkulan, dengan segala luka yang ada mereka masih bisa bertahan hidup dan akan menjalankan misi selanjutnya.
Selesai

Diposkan pada Cerbung

Petualangan Lima Elemen : 17.


…secepat kilat berbalik dan menampel peluru itu dengan senapannya.
“Mau mati, ya? Ditembak bukannya menghindar kok malah merem?” tanya Han seraya menyeringai.

Mulut Christian sontak terbuka lebar, terkagum, “Sebenarnya kau ini manusia macam apa?” tanyanya seraya geleng-geleng.
Han menujuk matanya dengan jari telunjuk dan tengahnya. Ia melakukan hal yang sama pada Christian sembari berkata: fokus.
Sementara itu,

Di planet Kamaula.
Pertarungan kelima elemen melawan raja Volt sudah dimulai. Dengan kekuatan petirnya, raja Volt membuat kelima elemen kucar-kacir dan kewalahan.
“Kenapa kita tak boleh menggunakan kekuatan kita, sih?” gerutu Zaqy biar telah Nauval jelaskan berkali-kali tentang hal satu itu.

Nauval nampak menghela nafas atas sifat keras kepala Zaqy, “Dia akan menyerap apapun kekuatan yang kita keluarakan lalu mengembalikannya dalam jumlah yang lebih besar. Saat ini satu-satunya yang bisa kita lakukan adalah melawannya dengan tangan kosong.” tuturnya.
Yang diberi tahu bukannya menurut, malah mengumpulkan kekuatannya dan melesat menuju raja Volt.
“Tidak! Zaqy! Dasar bodoh!!!” umpat Lia.
Zaqy yakin kekuatan udaranya akan melempar raja Volt sangat jauh dengan jarak sedekat itu. Namun waktu serasa terhenti ketika ia telah cukup dekat dan udara dalam genggamannya hilang begitu saja, hilang entah kemana.
Raja Volt menyeringai, “Kau mencari ini? Baiklah, akan aku kembalikan.” katanya seraya mengarahkan tangannya ke depan.
Kejadian itu terlalu cepat. Zaqy bahkan tak ingat bagaimana ia bisa berteriak dan terlempar jauh ke belakang dan terbatuk-batuk karena terbentur bebatuan. Segala sesuatunya terjadi dalam sekedipan mata.
Lia menghampiri Zaqy, ia membantu Zaqy berdiri namun mendaratkan bogem mentah hingga Zaqy kembali terjatuh.
“Dasar bodoh!!!” teriaknya.

Dhea memegang pundak Lia, “Kau hajar Zaqy nanti saja, Lia. Setelah kita bisa membunuh raja Volt. Terserah, mau kau hajar atau bunuh sekalipun,” katanya.
Lia mengarahkan kepalan tangan ke arah Zaqy, sementara Zaqy menelan ludahnya. Miris.
Di Bumi.
Christian mundur beberapa langkah karena alien-alien itu terus turun, tak ada habisnya.
“Ada apa?” tanya Han.

Christian menggelengkan kepala, “Apakah sekarang kau takut?” tanya Han lagi 

Christian spontan mengangguk dan sejurus kemudian menggeleng, “Kalau kau, manusia luar biasa, saja takut, apalagi aku.” ucap Han sembari turut mundur beberapa langkah.
Keduanya terkesiap ketika pundak mereka ditepuk beberapa kali. Keduanya pun menoleh, mendapati orang-orang berseragam lainnya yang belum mereka lihat sama sekali ada di belakang mereka, mengisyaratkan mereka agar beristirahat karena tiba masanya bergantian.
Rumah Han nampak lengang, tidak ada kebisingan—di depan rumah yang Hiro ciptakan karena bermain di depan rumah seperti biasanya. Alien memang bisa muncul di mana saja, dan Lisa sekalipun telah bersiap untuk hal itu. Maka ketika pintu rumahnya diketuk, Lisa meraih tongkat bisbol dan ia sembunyikan di balik punggungnya.

Lisa membuka pintu, bersiap akan memukul ketika Christian mengeluarkan elemen angin sehingga tongkat itu terlempar ke belakang dan lahirkan bebunyian yang mengundang Hiro ke ruang tamu.
“Ayah!” Hiro berlari menjelang Han, sementara Han berjongkok lantas mendekap Hiro yang merentangkan tangan begitu telah dekat.
Christian nampak tersenyum, hal itulah yang seharusnya selalu ia dapatkan andai ia masih hidup.
“Teringat sesuatu?” tanya Lisa, tetiba.
Christian cuma melirik Lisa sekilas, ia kemudian masuk menuju meja makan dan makan sebelum dipersilakan.
“Ternyata dia makan juga,” gumam Lisa.

Han mengangguk, “Iya. Aku juga baru tahu kalau ia butuh makan,” timpalnya.

Christian menghentikan aktifitasnya dan menatap kedua adiknya, “Aku tahu kalian membicarakan aku, kok.” katanya.
Sepasang suami istri itu segera pergi dari tempat mereka berdiri dan duduk bersama Christian. Christian masih memandangi Han dan Lisa dengan menyeringai dan keduanya sontak salah tingkah.
“Dia punya kekuatan angin,” gumam Han.

“Jadi, kita bisa dipukul tanpa disentuh sama sekali?” tanya Lisa.

Han mengangguk, “Tentu saja.” katanya.

“Mau coba?” Christian nampak mengarahkan telapak tangannya ke depan.
Sesusai membantu Han memakaikan seragam kebesarannya, Lisa keluar dari kamarnya dan benar-benar ingin sendiri. Namun seolah tahu betapa kacaunya hati Lisa, Han mengejar dan mereka berlabuh di balkon belakang rumah.
“Kamu kenapa?”

Diposkan pada Cerbung

Petualangan Lima Elemen : 16.


~Pembunuh berantai yang masih remaja~
Baru saja selesai mengisi formulir pendaftaran sekalipun bahkan pengumuman kelulusannya dari bangku SMA belum terturun. Ia sangat yakin, seribu persen yakin. Bagaiman tinggi badan, keberanian dan kepedulian yang dikatakan orang-orang melekat pada dirinya. Perpaduan itu adalah tiket menuju dunia yang ia tuju. Kedua orang tuanya pun setuju, maka sempurnalah rencana rancangan masa depannya.
Hingga pada suatu ketika, saat satu keluarganya tengah tertidur lelap. Tetiba terdengar bunyi gaduh di ruang tamu dan sesiapa menjelang termasuk dirinya. Di perjalanan menjelang itulah ia dapati orang-orang berpakaian serba hitam. Matanya beralih pandang, dan ia tercenung—tersedih, mendapati ayah ibunya tergeletak tak berdaya di lantai dengan luka bacok dan berdarah-darah.
“Apakah kita bunuh dia juga, Bos?” tanya seseorang yang menenteng celurit.

Seorang yang dipanggil Bos itu menggeleng pelan, “Tidak. Kita biarkan ia hidup dan lihat, apakah ia bisa balas dendam di masa depan,” katanya.
Bos dan orang-orang berbaju hitam keluar dari rumah dan menyisakan ia yang dengan kepayahan menjelangi ayah ibunya yang memandang kosong kepadanya.
Ia sedikit terkesiap ketika tengah menangis ketika tangan ayahnya yang juga berdarah menyentuh wajahnya, “Jangan kamu ikuti kata mereka, kamu masih mau raih cita-cita kamu itu, bukan?” butuh berlipat-lipat kekuatan untuk sang ayah pertanyaan satu itu, untuk berkata-kata.
Ia mengangguk, saat itulah ia lihat ayahnya tersenyum sebelum kembali tertidur yang tak bakal bangun lagi.
Ayahnya baru saja mengingatkan, namun entah kemana perginya kekata sang ayah yang padahal ia pun setuju, mengiyakan. Matanya telah ditutupi kegelapan, sehingga ia sama sekali tak bisa melihat mana baik buruk. Sama halnya dengan hatinya, awan-awan itu menggelantung. Pekat.
Sejak saat itu ia hidup hanya untuk satu tujuan, balas dendam. Ia telah lupa sama sekali dengan cita-citanya, ia lupa euforianya andai ia bisa memakai seragam. Padahal, dengan membayangkannya saja sebuah senyuman selalu terbit. Ia sama sekali bukan dirinya yang dulu, yang ambisius dan memiliki cita-cita agar berguna bagi banyak orang.
~Pembunuh berantai yang sudah dewasa~
Tidak sama dengan Bos yang masih memiliki hati dan menyisakan ia karena masih di bawah umur, ia membantai seluruh keluarga Bos bahkan anak bungsunya yang baru berusia lima tahun sekalipun. Itulah misi pertamanya.

Namanya sangat terkenal di internet. Mendadak ia masuk dalam jajaran buronan polisi paling diburu sekaligus yang paling susah untuk ditangkap.
===
Pembunuh Berantai itu menunduk, saat itulah Han menegakkan wajah Pembunuh Berantai lantas menghapus air mata di wajahnya yang terus menerus mengalir itu.
“Apa yang kau lakukan?” tanyanya.

Han tak mengindahkan, dan terus menghapusi air mata itu. “Hei!!!” teriak Pembunuh Berantai.

Han menatapnya, “Hidup seperti itu, kau pasti sangat kesepian. Aku rasa kau bakal dihukum mati, maka dari itu aku membuat satu keputusan besar,” katanya.

“Keputusan besar?” tanyanya.

Han menghela nafas, “Aku akan membuatmu bahagia,” katanya, “…aku akan jadi sahabatmu.”
Pembunuh Berantai itu nampak tercenung, tak percaya.
Dan seolah tahu apa yang dipikirkan Pembunuh Berantai, Han menambahkan, “Aku serius, berbahagialah.” katanya.
Alih-alih tersenyum sebagai tanda bahwa ia bahagia, Pembunuh Berantai itu justru kembali menangis bahkan air matanya kian meruah. Wajah Han merah, marah. Ia baru saja akan menggerutui Pembunuh Berantai ketika ia dengar sirene dari luar sana. Polisi dan ambulance datang bersamaan, memisahkan Han dan Pembunuh Berantai namun hati mereka sama-sama terisi.
Hampir satu minggu lamanya Han berkencan ruangan bercat putih penuh aroma kimia, karena pisau yang dibenamkan di perutnya oleh Pembunuh Berantai. Luka dan keadaan itulah yang mengingatkan Han pada Pembunuh Berantai, sahabat barunya. Han ingat pada permintaan Pembunuh Berantai, ia ingat karena kata-kata itu pun terus mengaung di telinganya bagai godam yang memaluremukkan hatinya yang memutuskan bakal menyerah itu dan menumbuhkan hati yang lainnya, hati yang baru.
“Berjanjilah satu hal,” kata Pembunuh Berantai berlatar belakang suara sirene dan derap langkah memburu yang kian dekat, siap segera memisahkan ia dan sahabatnya.

“Apa itu?” tanya Han.

“Teruslah berada di jalanmu saat ini, teruslah di sana demi aku.”
Han mengangguk, entah mengapa. Pembunuh berantai itu tak tahu sama sekali bagaimana susahnya Han mengatakan jawaban ‘iya’ dengan mengangguk.
✳✳✳
Christian terkesiap ketika melihat bagaimana Han menembak kemudian, Han benar-benar bergairah menunjukan siapa dirinya yang sesungguhnya kepada Christian.
“Apa-apa’an semangat yang menggebu itu?” gerutu Christian.
Christian terkesiap untuk kedua kali, kali ini karena sebuah peluru berhasil melewati Han dan otomatis menuju ke arahnya. Ia memejamkan mata, bersiap akan mengelurkan kekuatan angin ketika Han…

Diposkan pada Cerbung

Petualangan Lima Elemen : 15.


Christian ada di antara orang-orang berseragam—gabungan polisi dan militer, memegang senjata menjadi seorang polisi sekali lagi. Di tengah aktifitas misinya menembaki para alien, Han sesekali mencuri pandang terhadap sahabatnya itu dan tersenyum sendiri.
Keduanya saling memunggungi, “Aku tahu aku tak seharusnya menghawatirkanmu begini karena kau yang sekarang cuma zombie, tapi aku mohon,” dada Han terasa sangat sesak, “…hiduplah!!!”

Christian nampak tercenung walau sesaat, “Maaf,” katanya.

Han menoleh, “Untuk?” tanyanya.

“Dulu. Kau pasti terus memikirkan aku, bukan?”

“Jangan terlalu percaya diri,” Han menyeringai.
Berpuluh-puluh tahun yang lalu, ketika Christian a.k.a Reinold Serguev gugur dalam tugasnya…
Han menghadap komandannya, keputusannya sudah bulat. Sang Komandan terkesiap sampai sontak bangkit dari tempat duduknya yang maha nyaman itu.
“Apakah kau sudah benar-benar memikirkannya?” tanya Komandan.
Han mengangguk, sangat yakin. Melihat air muka Han bernas keyakinan, Komandan menghembuskan nafas panjang, kembali bersua kursi goyangnya lantas meraih selebaran dari sebalik laci meja kerjanya.
Han menerima selebaran yang disodorkan komandan. Ia membusungkan dada—menegakkan badan dan berhormat lantas berjalan menuju pintu keluar ketika Komandan membalas hormatnya.
Han baru saja memegang gagang pintu ketika Komandan kembali mengingatkan, “Negara sangat berterima kasih kepadamu. Sementara itu, Rei pasti sedih mengetahui keputusanmu ini setelah gugurnya ia. Kau tahu sendiri, apa yang terjadi kepada Rei sama sekali bukan kesalahanmu. Itu pilihannya sendiri untuk melindungi semua orang sekalipun ia harus mati pada akhirnya, kau…” Komandan nampak melepas kaca matanya, menyeka apa yang tanpa sadar telah tak terbendung, “sudahlah. Semua terserah padamu.”
Han hanya mengangguk, ia melanjutkan langkahnya lagi yang sempat terhenti dan keteguhan hatinya tak goyah sedikitpun.
Apa yang telah dikatakan Komandan sama seperti kata semua rekannya di kepolisian bahkan barangkali sesuatu di dalam hatinya yang meronta, mengelak sekuat tenaga agar ironi itu tak mesti terjadi.
Saban hari seusai bertugas, Han memikirkan hal itu. Ia memiliki hobi baru, memandang lekat-lekat selebaran bertuliskan ‘Formulir Pengunduran Diri’ dan kadang berakhir dengan senyum, tawa bahkan air mata. Ia juga melupakan kencan mingguannya dengan Lisa dan Lisa tentu miris dengan perubahan pada sikap Han. Ia tak mempermasalahkan kencan mingguannya sama sekali. Hanya saja, ketika waktu Han sudah berantakan seperti itu, pastilah terjadi sesuatu yang besar. Lisa mencoba menemui Han, namun Han hilang bak ditelan detak detik waktu. Satu-satunya cara untuk menemui Han adalah di ketika kekasihnya itu tengah bertugas di lapangan atau di kantor. Belakangan Lisa mengetahui alasan Han menghilang, dan ia mengancam akan memutuskan ikatan cinta jika Han tetap bersikukuh dengan keputusan terbodohnya itu. Yang diancam bukannya susah dan sedih malah menganggap itu sesuatu yang pantas didapatkannya untuk menghilangkan Reinold Serguev dari muka bumi. Untuk tak mencegah Reinold yang meski berbeda sama sekali dengan dirinya, namun tetaplah manusia yang toh pada akhirnya mati juga.
Dengan punggungnya, Christian mendorong Han karena tetiba berhenti menembak.
“Apa yang kau lakukan? Kenapa kau berhenti?” gerutu Christian.
Han segera tersadar dalam lamunan, dan karena terkesiap ia malah membabi buta.

Christian tercengang melihat bagaimana Han menembak dan karenanya melumpuhkan banyak alien dalam waktu sekedipan mata.
“Trik apa itu? Trik baru? Untuk trik menembakmu, aku mengakuinya. Itu sangat hebat! Keren!”
Han justru menahan tawa. Andai Christian tahu itu hanya reflek belaka karena ia dikagetkan.

Biarpun Han telah kembali ke medan perang, namun fragmen-fragmen masa lalu itu terus berlanjut terputar di kepalanya.
Pada suatu hari, Han menangkap pembunuh berantai yang sudah bertahun-tahun menjadi target besar penangkapan kepolisian.
Han yang mendapat luka tusukan di perut karena melawan pembunuh berantai, duduk di sebelah pembunuh berantai tersebut dan ia terjebak dalam situasi di mana ia dan pembunuh berantai itu harus saling mengobrol untuk mengusir kecanggungan masing-masing. Tangan pembunuh berantai telah diborgol dan sejumlah luka yang Han bubuhkan telah membuat pembunuh berantai itu terdiam, tak bisa bergerak sama sekali. Han pun telah menghubungi 110 dan ambulance, dan sebentar lagi rekan-rekannya bakal datang menjelang.
“Sudah berapa lama jadi polisi?” tanya Pembunuh Berantai, memulai percakapan.

“Lumayan lama,” jawab Han sembari menoleh.

Di ketika itu pulalah Pembunuh Berantai turut menoleh, “Kau tahu, dulu aku juga ingin menjadi polisi,” aku Pembunuh Berantai.
Han tercenung, pengakuan Pembunuh Berantai telah mengguncang hatinya.
Han menelan ludah, dan mendadak air liurnya seperti bakso bulat yang dalam keadaan bulat itu diangkat dari danau kuah sapi yang masih mengepul dan memaksa Han untuk menelannya saat itu juga. “Bagaimana bisa?” tanya Han.
Pembunuh berantai itu mengalihkan pandangan, memandang ke depan. Ia siap menumpahkan cerita terkelam dalam hidupnya.

Diposkan pada Cerpen

Petualangan Lima Elemen : 14.


Christian menatap adiknya itu, sekejab. Ia masih terlalu membenci sikap Lisa yang memperlakukan anaknya dengan sangat tidak baik. Ia terlalu membenci Lisa untuk sekedar bertanya ‘Bagaimana kabarmu selama ini? Bagaimana hidupmu selama ini? Apakah kau ingin bercerita sesuatu? Aku pasti selalu siap mendengarkan ceritamu.’, seperti sewaktu ketika ia masih hidup. Ia akhirnya kembali menekuri kata-kata Han yang terus terngiang di telinga.
Lisa mengatur duduknya—menegakkan badan dan menghembuskan nafas panjang sebelum memulai percakapan, “Aku tahu aku bahkan tak pantas berbicara seperti ini—di depanmu, setelah semua yang telah aku lakukan,” katanya, “…tapi aku benar-benar ingin menebus kesalahanku lewat dirimu.”

Christian mendongak, “Apa yang kau katakan?” tanyanya.

“Zaqy, dia sangat kesepian. Han telah mengangkat dirinya sebagai ayah Zaqy dan Zaqy sangat senang di ketika itu. Sejak hari itu akhirnya Zaqy memiliki seorang ayah. Namun, tidak ada yang tahu betapa hatinya sangat kesepian dan tersedih.”

“Lalu apa yang harus aku lakukan untuknya, Lisa? Apa yang bisa aku berikan?”

Lisa tersenyum, “Dia tidak butuh apa-apa. Toh, dia bisa mendapatkan apapun yang diinginkan. Hanya satu, satu yang tak bisa,”

“Apa itu?”

“Waktu.”
Christian lagi-lagi terpegan, terpekur dan benaknya benar-benar penuh di ketika itu. Seperti bakal meledak saja.
“Dia pasti sangat ingin bersama dengan ayahnya, seperti selayaknya anak dan ayah pada umumnya. Dia butuh kamu, kamulah satu-satunya yang tak bisa ia raih,”

“Aku tidak bisa hidup lebih lama lagi, Lisa. Setelah Raja Volt mati, aku pun akan hilang: kembali.”

“Pasti akan ada jalan, aku yakin,”
Lisa menerbitkan senyum, dan dengan air muka bernas keyakinan, ia bangkit dan meningglkan kakaknya. Tepat setelah Lisa keluar, Han masuk dengan langkah memburunya.
“Alien-alien itu sudah turun ke Bumi!” kata Han.

Christian menoleh lantas bangkit dan berkali menyeka ujung mata, “Para pengendali elemen telah sampai di planet Kamaula. Ayo, kita berangkat!” katanya.

Han baru saja akan membuka pintu ketika ponselnya berdering nyaring, “Hormat!” ucap Han seketika.
Hal itu mengingatkan Christian pada profesinya yang dulu dan seragam yang kini ia pakai. Hal itu pulalah yang mengingatkan Christian tentang Han dan seragamnya yang meski baru, namun apa-apa yang menempel di dada dan pundak tetaplah sama.
“Jadi, kau belum pernah sama sekali naik jabatan?” tanya Christian.

Han sontak menoleh, “Hei!!! Apa ini waktu yang tepat untuk membicarakan hal itu? Bumi tengah diserang!” tanyanya, protes.

“Aku tahu,”

“Apa maksud senyummu itu? Cepat hilangkan dari wajahmu! Aku sangat tidak menyukainya,” Han membuka pintu dan segera hilang begitu saja.
Sepanjang perjalanan ke markas kepolisian, Han terus masam mukanya karena Christian terus mengomel tentang jabatan Han yang masih itu-itu juga. Han punya trik tersendiri menghindari omelan sahabatnya, ia akan menyanyikan lagu kebangsaan sekeras mungkin.
Sementara itu di tempat lain…
Planet Kamaula
Hamparan tanah yang seperti pasir-pasir putih itu tersibak begitu para elemen memijak. Mereka sama-sama takjub, segala sesuatunya berwarna putih cerah dan mereka sama-sama yakin bahwa pemandangan macam itu cuma bakal mereka temui di alam mimpi. Khayalan.
Sesaat kemudian, awan-awan hitam yang bergulung-gulung itu menutup cerahnya pemandangan. Ketakjuban pun berubah menjadi suatu kecurigaan.
“Ada yang datang,” cetus Nauval.

“Siapa?” Zaqy bertanya.

“Raja Volt?” kali ini Lia menebak.
Nauval mengangguk, sontak kelimanya mengatur posisi waspada. Bersiap menyerang.
Angin bertiup begitu kencang setelahnya, dan kelima elemen pasti sudah terhempas jika Zaqy tak membuat tameng-tameng dari kekuatan udaranya itu.
“Itu…” Dhea nampak menujuk ke arah bebukitan.
Kilat menyambar-nyambar, sementara di bawahnya nampak seseorang tengah berjalan santai menjelang kelima elemen. Entah, apakah itu orang atau alien.
“Apakah itu raja Volt?” tanya Lia.

Nauval mengngguk, “Ya,” jawabnya singkat.
Kesemuanya nampak tercenung. Raja Volt, walaupun dikatakan bahwa ia manusia namun bentuknya berbeda sama sekali dengan manusia pada umumnya. Ia memiliki dua tanduk di kepala, sayap yang terbuat dari petir dan ia selalu memegang tongkat keemasan.

Keadaan udara seketika berubah ketika raja Volt telah sampai di hadapan kelima elemen. Karena hal itu pulalah kelima elemen sampai mundur beberapa langkah.
“Selamat datang di planetku. Planet Kamaula. Aku sudah lama sekali menantikan kalian,” ucap raja Volt seraya menyeringai.
Pertarungan besar akan segera dimulai.

Diposkan pada Cerbung

Petualangan Lima Elemen : 13.


Zaqy menatap Christian yang ternyata adalah ayahnya itu, dengan mata yang panas dan sejurus kemudian berkaca-kaca. Jantung Christian berasa nyeri melihat pemandangan itu, ia baru saja akan menghambur ketika Zaqy memencet tombol dan lift terbuka lantas Zaqy keluar dan berlari tanpa tujuan.
Christian memandang berkeliling pada empat elemen yang masih nampak tercenung itu, “Kalian, tunggulah di atap. Zaqy pasti pergi, aku pasti menyelesaikan masalah ini,” ia nampak menunduk sesaat, “…maafkan aku.”
Christian baru saja berbalik dan akan berlari ketika Lia meraih lengannya. Christian tersenyum melihat pengendali api itu menyunggingkan senyum kepadanya. Tidak ada sepatah katapun ketika mereka bercakapan, namun hanya karenanya saja Lia sudah mendapat semua jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang selama ini cuma ia pendam. Bagaimana Christian terlalu kentara menyayangi Zaqy lebih dari semua elemen, bagaimana Christian acap kali memperhatikan lelaki payah satu itu dan bagaimana ketika membicarkan tentang Zaqy, wajah Christian bersinar secerah binar di matanya. Semua karena Christian adalah ayah Zaqy. Christian Serguev: Reinaldi  Serguev.
Pintu lift tertutup perlahan, Lia masih bisa melihat bagaimana Christian mengerahkan semua tenaganya demi bisa melesat cepat dan menjelangi Zaqy.
Christian melambatkan larinya ketika melihat tujuannya tengah memandang keluar dinding kaca ketika tiada sesiapa. Pelan, ia berjalan menghampiri.
“Apa kau marah padaku?”

Zaqy menoleh, ia menyeringai, “Pantas saja aku tak pernah asing ketika melihatmu, pantas saja paman Han marah jika aku memanggilmu ‘Pak Tua’, pantas saja aku selalu merindukanmu walau setiap waktu kita bisa bertemu, pantas saja aku…” Zaqy menunduk, sementara air mata itu membanjir.

Zaqy yakin ia baru saja mengedipkan mata ketika tubuh besar itu mendekapnya erat dan lama, “Ini aneh sekali. Rasanya aku sedang bermimpi saja,”

Pelukan itu makin erat, “Aku sangat merindukanmu. Aku sangat merindukanmu, Ayah.”
Christian menepuk-nepuk pundak anak semata wayangnya yang telah dewasa itu, sesekali ia akan melepas pelukan dan memeluk Zaqy lagi dan lagi.
Angin berhembus dengan kencang di atap gedung itu. Kelima elemen tengah mengumpulkan kakuatan mereka masing-masing agar bisa melesat dan cepat sampai di planet Kamaula.
Christian mendekati kesemuanya, “Jaga diri kalian baik-baik, kalian harus pulang dalam keadaan hidup. Mari kita berjuang, aku akan membantu di sini bersama polisi dan militer sebelum…” ia membuang muka, tak ingin sama sekali menunjukan wajah sedihnya ketika mengucapkan realita itu.

“Maaf telah memanggilmu ‘Pak Tua’, Ayah,”
Christian mendongak, karena seseorang yang baru saja berbicara telah mulai mengawang. Panas air matanya telah memaksa bulir-bulir itu melewati pipinya.
“Saat aku kembali ke Bumi, kau masih ada kan?” tanya Zaqy, ia tersenyum meski hatinya terusik ketika menanyakan hal itu.

Christian tersenyum, “Tentu saja,” katanya.

“Baguslah, nanti kita akan banyak mengobrol, menghabiskan waktu. Hanya berdua.”
Senyum di wajah Christian makin ranum. Namun, sesaat kemudian sirna seiring melesatnya para elemen menembusi langit. Rasanya Christian ingin membabi buta, melompat dari atap itu dan mati untuk kedua kali saat itu juga agar kesedihan dalam hatinya segera menghilang, jika tidak teringat alasan ia direinkarnasi dan tentang alien yang pasti bakal diturunkan lagi oleh raja Volt.
Christian terduduk lemah, ia meraung-raung dalam tangis seolah menceritakan kepada seluruh kota bahwa ia tengah berduka.
✳✳✳
“Jadi kau membohonginya?” Han geleng-geleng kepala.

Christian mengangguk beberapa kali, “Apa kau mau dibenci olehnya?” tanya Han lagi.

“Akan lebih baik jika dia membenciku setelah aku pergi. Dengan begitu, ia tak perlu lagi mengingat ayahnya yang sama sekali tidak berguna ini,” Christian memukul-mukul dadanya sendiri, berkali-kali, dan sekali lagi terombang-ambing dalam lautan kesedihan.

“Satu-satunya hal yang tak berubah dari dirimu bahkan setelah kau dibangitkan dari kematian adalah, bahwa kau tak pernah benar-benar dapat memahami,”

Christian menatap Han lekat, “Apa maksudmu?” nada bicaranya seketika berubah.

“Kau bahkan tak memahami Zaqy, anakmu sendiri, apa kau tahu?” tanya Han, “…Zaqy bukan sama sekali orang yang kau bayangkan, yang kau harapkan setelah kau bohongi begitu. Justru…”

“Justru?” Christian mendesak.

“Ia akan meyalahkan dirinya sendiri. Ia berpikir—bertanya, ‘Mengapa ayah sampai berbohong begitu? Apa karena aku? Benarkah karena aku? Kenapa?’, dan penyesalan-penyesalan itu terungkit dan terungkit terus sekalipun ia pintar menyembunyikannya pula,” tutur Han, “…kau tak hanya melukai dirimu sendiri dan Zaqy, namun juga menjadikan luka itu kenangan yang terkenang dan susah untuk dilupakan.”
Christian terpekur, sementara Han bangkit dan meninggalkan sahabatnya itu.
Sekarang, aku harus bagaimana? Batin Christian.
Tetiba Lisa muncul, menghadap kakaknya dan siap menumpahkan segala sesuatu di dalam benaknya.