Posted in Cerita Pendek, Cerpen, Cinta, Love, Novel, Tak Berkategori

Bintang Part 2 : Dilanda Dilema


Cahaya mentari masuk melalui jendela rumah itu, dingin yang sedari tadi ia rasakan, kini semakin menjadi. Adit terbangun dari tidurnya dan tersadar bahwa ia telanjang bulat saat ini. Ia setengah mengingingat kejadian tadi malam.

Di pakailah kemeja dan celana Adit, lalu ia mencari Mirna. Mirna di dinding dekat pintu masuk, kakinya ia peluk. Ia terisak bukan main saat tersadar apa yang telah di lakukan dengan Adit tadi malam. Air mata tak henti mengalir  dari matanya. Sampai pada akhirnya datanglah Adit yang menepuk pundaknya.
“Kamu tenang aja Mir, aku pasti tanggung jawab.” kata Adit mantap.
Mendengar kata itu air mata Mirna justru semakin mengalir dengan derasnya. Ia teringat pada kejadian beberapa hari lalu di kantornya, saat tak sengaja seorang karyawan menabrak seorang perempuan cantik.
“Maaf Mbak, saya gak sengaja.” kata karyawan itu.

“Ok, gak apa-apa kok.” kata dia ramah.

“Btw, Mbak ini karyawan baru ya? saya belum pernah liat.” tanya karyawan itu.

“Perkenalkan, nama saya Gina, calon tunangannya Adit.” kata Gina dengan senyum lebar.

“Wah, calon bos. Maaf banget ya, mbak. Sekali lagi…” kata karyawan itu sembari menjabat tangan Gina.
Gina pun kembali tersenyum.
                            ⭐⭐⭐
Tak seperti biasanya, Mirna kini lebih sering terlihat murung dan sedih. Dalam hatinya ada rasa takut, ia takut bila ia akan hamil.

Icha, teman sekantornya menghampiri Mirna.
“Mir, nanti pulang kantor kamu kemana? ada acara gak? kita jalan yuk!” kata Icha.
Mirna hanya terdiam, seolah tiada orang yang mengajaknya bicara.
“Mir!?” panggil Icha sembari menepuk pundak Mirna.
Mirna pun tersadar dari lamunannya,
“Eh! kamu Cha, ada apa?” tanya Mirna.

“Mir, kamu gak biasanya kaya gini, kamu kenapa? sakit?” Icha justru balik bertanya.

“Nggak kok…” jawab Mirna.
Baru saja Mirna mengatakan bahwa ia baik-baik saja, akan tetapi kini tubuhnya bergetar hebat, ada sesuatu dari perutnya yang memaksa keluar. Mirna berlari menuju ke kamar mandi di susul dengan Icha yang mengikutinya.

Di kamar mandi Ia langsung muntah-muntah.
“Mir, kamu masuk angin ya?” tanya Icha.

“Gak tau nih.” jawab Mirna.

“Atau…”

“Kamu hamil ya!”
Entah kenapa Mirna tak asing mendengar kata itu, jantungnya berdegub kencang tak beraturan, perasaan takut itu kini kembali menyelimutinya.
                           ⭐⭐⭐
Sebelum semua orang di kantor pulang, Adit sempat memberikan sebuah pengumuman pada mereka.

Saat itu Adit meraih tangan Mirna lalu membawanya ke depan.
“Kami akan bertunangan. Secepatnya.” kata Adit.
Semua orang di sana tercengang mendengarnya, diam antara banyaknya gadis cantik yang mengaguminya, mengapa Adit bisa memilih Mirna yang hanya bawahannya? pikir mereka. sunyi sempat menghiasi atmosfer kantor saat itu walau sesaat. Sampai pada akhirnya, suara tepuk tangan memecah kesunyian itu.

Lalu semua orang bergantian memberi selamat pada keduanya.

Hingga perhatian mereka tersita pada bunyi sesuatu yang jatuh. Di belakang sana, seseorang menjatuhkan cangkir berisi teh panasnya.
“Gina.” kata Mirna dalam hati.
Ia terkejut mendengar pernyataan Adit yang barusan. Tak kuasa, air matanya pun mengalir.

Gina pun berlalu begitu saja, membawa kesedihan yang tak tertahankan lagi.

Mirna merasa bersalah atas ini semua, saat ini ia tengah dilanda dilema. Antara senang karena Adit mau nenikahinya dan sakit melihat seseorang kehilangan orang yang paling di cintainya memilih orang lain.
Selesai.

Advertisements
Posted in Cerita Pendek, Cerpen, Dongeng, Love, Novel, Tak Berkategori

Bintang Part 1 : Rumah Kosong

Lelaki itu berjalan melewati ruang-ruang karyawannya. Adit, seorang bos muda yang tampan dan rupawan. Sangat di gilai oleh banyak karyawanya sendiri. Semua orang berdiri dan menyambut dengan senyuman.

Kecuali Mirna, yang saat ini sedang tertidur pulas.

Adit mendekati mirna lalu berbisik di telinganya.
“Bangun woi, ada Bos datang.” ucap Adit.
Mendengar kata ‘Bos’, Mirna langsung bangun. Ia gelagapan seperti tengah tenggelam. Dan saat itulah tak sengaja bibirnya yang merah mencium wajah Adit, mereka berdua saling terdiam beberapa saat, sampai ada yang memecah suasana itu. Karena ciuman bibir itulah wajah Adit ada noda merahnya, semua wanita di sana berlomba-lomba menawarkan tisu pada Adit. Semantara itu Mirna dalam hati tengah berbunga-bunga karena dapat mencium lelaki idamannya meski itu tak sengaja.

                            ⭐ ⭐ ⭐
Halte bis malam itu sangatlah sepi, hanya ada Mirna dan beberapa orang saja. Hujan turun dengan lebatnya, bis yang Mirna tunggu pun tak kunjung datang.

Hingga sebuah mobil mewah putih menghampiri halte itu, mobil yang tak asing lagi baginya. Terbukalah kaca mobil, nampaklah wajah tampan Adit dengan kemeja dan jas membuatnya semakin terlihat tampan lengkap dengan rambut yang selalu rapi.
“Mirna! Masuk!” teriak Adit takut tak terdengar karena hujan saking lebatnya.
Mirna sempat ragu dan mematung di tempatnya berdiri saat ini, antara percaya dan tidak bahwa yang didepannya menawarkan tumpangan saat ini adalah bosnya, sekaligus orang yang sudah lama ia sukai.
“Mirna!!!” teriak Adit lagi.
Mirna segera tersadar,
“Eh… iya, Pak!” teriak Mirna.
Lalu dia masuk ke dalam mobil itu duduk didepan disamping Adit. Mobil pun berjalan, dan sepanjang perjalanan mereka saling membisu. Mirna takut memulai suatu pembicaraan, rasanya sangatlah canggung. Sementara itu Adit juga hanya terdiam sedari tadi, dia terus fokus menyetir mobil mewahnya.

Sampai akhirnya ada guncangan pada mobil yang mereka naiki saat ini dan mobil pun berhenti dengan sendirinya.
“Aduh… kenapa lagi ini? Bentar aku cek dulu ya, mir.” kata Adit.
Mirna hanya mengangguk, tanda jawaban ‘iya’.
Bagi banyak orang, mungkin kejadian mobil mogok seperti ini adalah hal yang menyebalkan. Tapi bagi Mirna tidak, sebab ia mengalaminya bersama orang yang ia puja selama ini. Adit, bosnya sendiri.
Beberapa saat kemudian, Adit kembali dengan pakaian setengah basah.
“Mobilnya mogok, Mir. Udah malem gini gak mungkin ada bengkel yang buka.” kata Adit.
Tak jauh dari tempat mobil mereka mogok saat ini, terdapat sebuah rumah.
“Gimana kalau kita berteduh disana, Mir.” kata Adit.

“Boleh.” ucap Mirna pelan.
Mereka berdua pun berlari ke arah rumah itu, rumah satu-satunya di daerah itu.

Sampailah mereka di depan rumah, dan ternyata itu adalah rumah kosong.

Mereka masuk ke dalam rumah itu lalu duduk di sebuah dipan.

Mirna menggigil kedinginan, Adit yang melihatnya mencoba menghangatkan dengan menggenggam erat tangannya.

Mirna sempat terkejut pada perlakuan Adit yang tiba-tiba, namun dalam hatinya ia merasa kegirangan. Ia menatap tangan yang tenggah di genggam oleh Adit saat ini.
“Apa-apaan kamu ini Pak? bikin hatiku dag dig dug saja.” batin Mirna.

“Dingin ya?” tanya Adit.
Mirna mengangguk,
Tak lama terdengar suara sambaran petir yang sangat keras. Dan karena takut, Mirna dengan spontan memeluk tubuh Adit.
“Kamu takut sama petir ya, Mir? It’s ok, saya ada disini bersama kamu.” ucap Adit seraya melempar senyuman manisnya.
Adit menggesekkan telapak tangannya lalu menempelkannya pada tangan Mirna, setelah itu berlanjut ke wajah Mirna. Lagi-lagi Mirna di buat terkejut karena perlakuan Adit.

Wajah mirna memerah karena tersipu malu, dan mereka pun saling menatap satu sama lain.
“Kamu cantik sekali malam ini.” ucap Adit lirih.
Kilat kembali menyambar dengan kerasnya, cahaya putih terang itu sampai terlihat ke dalam rumah. Mirna yang ketakutan secara spontan memeluk erat tubuh Adit.

Adit melepas pelukan itu, lalu seketika mencium bibir Mirna. Meski Mirna sempat menolak, tapi akhirnya ia menikmatinya. Baginya ini adalah seperti mimpi yang menjadi kenyataan, berduaan dengan orang yang di cintainya.
                           ⭐⭐⭐

Satu persatu baju mereka lepaskan, hingga tak selembar benang pun menempel di tubuh mereka. Lalu mereka beradu dalam satu, berpadu dalam cinta. Malam yang semula dingin menjadi hangat di sertai kenikmatan tiada tara.
Selesai

Posted in Cerita Pendek, Cerpen

Korban

Aji berjalan ke arah Ririn dengan membawa sebuah kotak kado yang ia sembunyikan di balik badannya.
“Ini buat kamu… selamat ulang tahun, rin.” kata Aji seraya memberikan kotak kado itu.

“Apa ini?” tanya Ririn.

“Buka aja.” jawab Aji.
Ririn pun membuka kotak itu. Namun, bukannya senang karena telah di beri kado, ia malah membuangnya di hadapan Aji.
“Apa ini? boneka? murahan lagi!” kata Ririn sambil marah-marah.

“Tapi rin, ini…”

“Aku gak mau terima kado murahan seperti itu.”

“Lihat ini… cincin, di kasih sama Gilang.” kata Ririn sambil menunjukan cincin itu pada Aji.

“Tapi rin, gilang itu kan…”

“Apa? kamu mau bilang lagi kalau Gilang itu playboy? akh, sudah! aku mau pergi, sia-sia aja aku nemuin kamu hari ini. Ternata cuma mau ngasih kado murahan seperti itu.” kata Ririn.
Setelah itu, Ririn pun pergi meninggalkan Aji sendirian.

Sahabatnya itu kini telah berubah, berubah menjadi orang yang bahkan tak Aji kenal. Ia menjadi seperti itu sejak mengenal Gilang, sejak menjadi pacar Gilang.

Aji kemudian memungut boneka yang dibuang Ririn tersebut, ia menatap boneka itu.
“Memangnya apa yang salah dengan aku? apa yang salah dengan kamu? apa yang salah dengan kita?” tanya Aji.

“Padahal waktu itu…”
Aji teringat pada beberapa hari yang lalu, ketika ia memutuskan untuk lembur beberapa hari demi untuk bisa membelikan Ririn hadiah.

Dan tak pernah ia sangka bahwa pengorbanannya akan di sia-siakan begitu saja.
Suatu hari, Aji melihat Gilang duduk berdua dengan seorang perempuan. Akan tetapi, perempuan itu bukanlah Ririn.

Gilang terlihat mesra dengan perempuan tersebut, lebih mesra dari perlakuannya kepada Ririn.

Aji marah melihat kejadian itu, ia emosi. Ia lalu menghampiri Gilang dan saat itu pula seketika ia memukul Gilang dengan keras.
“Woi!!! gila loe ya!!!” teriak Gilang.

“Loe yang gila. Loe tu udah punya pacar, ngapain loe sama cewek ini?” tanya Aji.

“Ya terserah gue mau sama siapapun juga kek, loe gak usah ikut campur.” jawab Gilang.

“Dan satu lagi, loe gak usah sok jagoan…” kata Gilang sambil melontarkan kepalan tangan itu ke arah Aji.
Aji mendapat pukulan berulang kali, sampai wajahnya babak belur dan keluar darah dari mulutnya. Setelah itu, Gilang berlalu begitu saja bersama perempuan itu tanpa mempedulikan Aji yang terkapar di lantai saat ini.
Ternyata dari jauh Ririn menyaksikan kejadian yang baru saja terjadi. Termasuk saat Gilang mengandeng tangan perempuan lain.

Ia kemudian berlari ke arah Aji, dan dengan bantuan orang-orang disana, Aji pun akhirnya dibawa ke rumah sakit.
Dalam perjalanan menuju ke rumah sakit, ia menatap wajah Aji yang penuh dengan luka itu.
“Ternyata kamu bener ji, Gilang bukan cowok yang baik.” kata Ririn dalam hati.
Sesampainya di rumah sakit, Aji langsung diperiksa. Dan beberapa jam kemudian Aji sudah bisa dijenguk.
“Ya ampun ji, kenapa loe sampai sejauh ini?” tanya Ririn.
Karena terharu, tak terasa air matapun mengalir.
“Rin… aku sayang kamu.” ucap Aji lirih setengah sadar.
Ririn terkejut mendengarnya, ternyata selama ini Aji menyimpan rasa untuknya.
“Ternyata selama ini aku gak peka ya ji?” tanya Ririn dalam hati.
Lalu, saat itu handphone Aji berbunyi. Ada sebuah panggilan masuk disana dan Ririn pun mengangkatnya.
“Halo ji! loe dimana? kok belum berangkat?” tanya seseorang lelaki di balik telefon itu.

“Halo! ini saya Ririn, temannya Aji. Aji sedang ada di rumah sakit, dia sedang sakit saat ini.” kata Ririn.

“Apa! sakit? pasti karena lembur selama beberapa hari ini deh…” kata lelaki itu.

“Jadi, Aji lembur mas?” tanya Ririn.

“Iya, katanya dia lagi butuh uang untuk membelikan kado boneka seseorang.” jawab lelaki itu.
Handphone itu terlepas dari genggaman Ririn, dan Ririn berlari menuju ke arah Aji. Saat itu pula Ririn memeluk Aji.
“Maaf ji, maafin aku.” ucap Ririn sambil terisak.


“Terkadang kita tak sadar bahwa di sekitar kita ada(banyak) yang menyayangi dan mencintai kita dengan tulus.”
Selesai.
Maaf bila jarang pos, saya sedang membaca beberapa komik yang saya beli di bookfest di Temanggung beberapa hari yang lalu. Dan juga, saya sedang belajar menulis puisi hehe😁😁😁 Yah, begitulah. Saya ingin bisa semuanya.

Posted in Cerpen, Novel

Mie Instan Rasa Cinta

Karena lapar,malam itu Tegar terbangun. Ia memutuskan untuk mencari makan di depan kos. Biasanya di depan kos banyak pedagang kaki lima yang menjajakan dagangannya. Tapi,entah mengapa malam ini berbeda,tak ada satupun pedagang kaki lima yang berjualan di depan kos. Ia melihat pada jam di dinding,disana waktu menunjukan pukul 01:30 dini hari.
“Hmmm,pantas saja.” ucap Tegar lirih.
Kali ini ia bangun lebih lama dari biasanya,dan tidak kebagian jatah diskon abang-abang penjual makanan. Biasanya saat hampir tutup,abang-abang tersebut akan memberikan diskon berupa makan kerupuk sepuasnya atau minum teh gratis.

Dia kemudian berjalan masuk ke kamarnya mengambil dua bungkus mie instan rasa soto kesukaannya lalu berjalan melalui lorong koridor kos dan menuju dapur. Disana ia menghidupkan lampu,dan dia terkejut ketika melihat sosok perempuan yang mengenakan pakaian serba putih seperti hantu.
“Aaaaaaaaaaa!!!” teriaknya.
Tangannya lemas,dua bungkus mie instan yang dia pegangpun sampai terlepas dari genggaman tangannya.
“Hantu!!!” teriaknya lagi.
Sosok itupun membalikan badannya.
“Eh,aku bukan hantu lho.” kata perempuan itu.
Perempuan itu mendekati Tegar,lalu mengambil dua bungkus mie instan yang berjatuhan lalu memberikannya pada Tegar.

Dia kemudian mengajukan tangannya seraya berkata…
“Namaku Lia. Aku anak baru di kosan ini,salam kenal.” kata Lia dengan tersenyum.

“Namaku Tegar. Salam kenal juga.” kata Tegar sembari menyambut tangan Lia dengan sedikit tersenyum.
Setidaknya sekitar 30 detik lamanya mereka berjabat tangan dan tak kunjung lepas. Tegar terpesona pada pandangan pertama melihat Lia. Rupanya yang dia lihat bukanlah hantu,melainkan bidadari yang turun ke dapur kos-kosan.
“Eh,maaf.” ucap Tegar sambil melepas jabatan tangannya.

“Hehe… gak apa-apa kok,mas Tegar.” kata Lia.

“Kamu lapar ya?” tanya Tegar.

“Iya mas,hehe… tapi gak tau mau makan apa,tadi juga gak sempat beli mie instan. Maklumlah,baru aja jadi anak kosan,jadi belum tau beradaptasi.” jawab Lia.
Tegar menatap dua bungkus mie instan itu,iapun mulai berfikir. Biasanya dia akan menyantap dua hingga tiga bungkus mie itu sendirian,sekaligus. Meskipun tubuhnya kurus,akan tetapi dia orang yang rakus.

Setelah suasana hening sejenak ketika Tegar tengah mempertimbangkan,akhirnya ia memutuskan untuk membaginya dengan Lia. Kali ini.
“Ya udah,makan mie ini aja bareng aku.” kata Tegar.

“Tapi kan… itu punya mas.” kata Lia.

“Akh… tidak apa-apa kok.” kata Tegar dengan tersenyum palsu.

Tegar memasak mie tersebut,sementara Lia duduk di meja makan.

“Nah… mienya sudah jadi,silahkan.” ucap Tegar.

“Terima kasih.” kata Lia.
Merekapun menyantap mie yang masih mengepul itu. Sesekali Lia melirik ke Tegar,dan tanpa sadar Tegarpun melakukan hal yang sama.
Keesokan harinya…
Lia berkunjung ke rumah ibu kos untuk membayar uang bulanan pertamanya. Mereka banyak berbincang-bincang,termasuk tentang sifat-sifat penghuni kos.

 

“Dan… yang namanya Tegar itu,meski badannya kurus,tapi dia sangatlah rakus. Dia bisa menghabiskan tiga bungkus mie instan sekaligus.” ucap bu kos.
Ahirnya Lia tahu bahwa Tegar sebenarnya adalah orang yang rakus. Ia jadi terharu karena Tegar rela membagi makanan padanya.

Dan ketika sepulang dari rumah ibu kos,Lia menyempatkan diri mampir ke kamar Tegar dengan membawa semangkuk mie instan rasa soto favourit Tegar. Lia mengetuk pintu Tegar dan Tegarpun membukanya. Terlihat wajah lesu Tegar dengan mata yang setengah menutup. Karena kelaparan,malam tadi Tegar tak bisa tertidur lelap. Imbasnya,sampai sesiang ini ia baru bangun. Mata tegar langsung terbuka lebar saat melihat semangkuk mie instan mengepul yang di bawa Lia.
“Sampai segitunya,pasti dia tidak bisa tidur tadi malam sampai bangun aja sesiang ini.” ucap Lia dalam hati.

“Ini buat mas Tegar.” kata Lia sambil menyodorkan semangkuk mie instan tersebut.

“Makasih.” Tegar menerimanya dengan senang hati.
Tegar langsung menyantapnya.
“Itu mie instan rasa cinta mas.” kata Lia sambil tersipu malu.
Tegar justru kaget dan tersedak mendengar kata Lia.
“Aduh,maaf mas. Ini minum dulu.” kata Lia sambil memberikan segelas air putih yang ia ambil di ranselnya. Tegar segera meminumnya.
Lalu…
“Maksud kamu apa?” tanya Tegar.

“Aku sudah dengar tentang mas Tegar dari ibu kos tadi. Dan ternyata mas Tegar ini orangnya rakus ya? Aku jadi terharu sebab mas Tegar mau membagikan makanan pada ku,padahal mas Tegar sendiri juga butuh. Baru kali ini aku menemukan orang seperti kamu mas,yang mengesampingkan diri sendiri dan rela berkorban demi orang lain. Dan sepertinya aku suka sama kamu. Maaf kalau lancang,aku hanya mengungkapkan perasaanku saja.” kata Lia.
Tegar sempat bengong sesaat dibuatnya.
“Akh Lia ini… mana bisa aku melihat bidadari tersiksa kelaparan. Aku juga sebenarnya baru kali ini menemukan perempuan yang mau duduk dan makan bersamaku. Semua orang terutama perempuan akan jijik bila didekatku karena aku yang jorok dan buruk rupa ini. Dan sebenarnya aku juga suka sama kamu. Pada pandangan pertama,aku langsung jatuh cinta.” kata Tegar.

“Meski begitu,aku mau kok mas terima kekurangan kamu.” kata Lia.

“Jadi… kita jadian nih?” tanya Tegar.

“Iya.” jawab Lia tersenyum.
Sejak hari itu mereka jadian. Banyak teman Tegar yang iri karena Tegar mempunyai pacar yang cantik.
Selesai.
*Cerita ini terispirasi dari kebiasaan saya yang selalu bangun sekitar  jam 12 malam karena lapar hehe😂😂😂

Posted in Cerpen

12/06

Suatu malam…
Disebuah gudang Celine berada,dengan mata dan mulut tertutup kain serta tangan diikat dengan tali. Suara teriak kesakitan dari seorang lelaki yang tak asing lagi di telinga membuat suasana malam itu menjadi sangatlah mencekam.
“Akh! akh! sakit!!!” teriak lelaki itu.
Lalu suara langkah kaki mendekat pada Celine,kemudian ia membuka penutup mata&mulut Celine.
“Frans…” kata Celine.
Celine sangat terkejut,apa maksudnya semua ini? mengapa tiba-tiba ada Frans disini? apakah Frans yang membawanya kemari? Dan juga siapakah orang yang berteriak tadi? Celine penasaran,matanya menjelajah ke semua sudut ruangan,dan ia dapati seorang lelaki telah terbaring lemah dilantai dengan berlumuran darah di sekujur tubuh. Celine semakin penasaran,apa yang terjadi pada lelaki tersebut. Lalu Frans menghampiri lelaki itu dan membalik badan lelaki itu. Wajahnya babak belur,matanya setengah terbuka,tubuhnya lemas seolah tiada daya lagi. Dan betapa terkejutnya Celine ketika ia tahu bahwa lelaki itu adalah Hilmi,mantan pacarnya.
“Lihatlah! Orang yang terus menerus menyakiti kamu harus disakiti juga,bahkan ia pantas untuk dibunuh.” kata Frans sambil menujuk ke arah Hilmi.
Celine sedih melihatnya,tak kuasa menahan air mata itupun menetes.
“Apa masudmu Frans?” tanya Celine.

“Aku hanya ingin memberikan pelajaran pada orang-orang yang menyakitimu.” jawab Frans tegas.
Ingatan Frans menuju ke beberapa hari yang lalu,saat ia melihat Rico menggoda Celine di kampus. Malam harinya Rico langsung mendapat teror dari seorang pria misterius yang melukainya hingga ia kritis. Pria tersebut adalah Frans.

Tak hanya itu saja,Frans juga melakukan hal yang sama pada seorang wanita teman sekelas Celine yang bernama Irma. Saat itu Celine dikerjai oleh Irma,ia dibuat jatuh dari tangga sampai kakinya cedera. Akibat kejadian itu,Celine harus berjalan dengan bantuan kursi roda. Irma melakukan semua itu karena dia cemburu karena Hilmi lebih memilih Celine dari pada dia. Frans yang tau bahwa pelakunya adalah Irma langsung membalas perbuatan irma tersebut dengan mendorongnya ketika hendak turun dari tangga. Irma terluka parah,banyak darah yang keluar dari kepalanya akibat beberapa kali terbentur anak tangga. Dia mengalami koma,bahkan sampai sekarangpun dia belum sadar.

Dan puncaknya adalah disaat Hilmi memutuskan hubungannya dengan Celine. Meski itu hanya akan berlangsung sementara,tapi sejak saat itu Celine selalu terlihat sedih. Hilmi yang akan kuliah diluar negeri memutuskan untuk mengakhiri hubungannya dengan Celine. Ia hanya ingin fokus pada pendidikannya. Karena hal itulah Celine,Frans dan Hilmi ada di tempat ini,Frans berencana akan membunuh Hilmi didepan Celine.
“Jangan bilang bahwa kau jugalah yang telah melukai Rico dan Irma.” kata Celine.

“Memang akulah yang telah melakukannya,aku hanya ingin membuat mereka sadar,bahwa kamu tak pantas di perlalukan seperti itu.” kata Frans.

“Tapi kenapa harus dengan melukai?” tanya Celine.

“Itu adalah balasan yang setimpal.” jawab Frans.

“Aku tak tahu lagi dengan jalan fikiranmu,aku sudah tidak mengenalmu lagi Frans.” kata Celine.

“Aku suka padamu Celine,tapi rasa itu tak pernah terungkapkan. Akh sudahlah,kamu nikmati saja malam ini. Malam ini kita akan menyaksikan orang yang telah menyakiti hatimu ini mati.” terdapat penekanan pada kata mati.
Celine terbelalak mendengar pernyataan Frans,ia tak pernah sadar pada hal itu,tak pernah ia tahu bahwa Frans ada rasa untuknya.

Frans menutup mulut Celine dengan penutup itu lagi,dan mengambil sesuatu dibalik celananya. Rupanya itu adalah sebuah pistol.
“Apa yang akan dia lakukan? Apakah dia akan benar-benar membunuh Hilmi?” tanya Celine dalam hati.
Celine menutup matanya,ia takkan sanggup melihat orang yang masih di cintainya itu mati didepan matanya.

Sementara itu Frans mendekat pada Hilmi dan mulai mengarahkan pistolnya.
“Kau takkan berani membunuhku…” ucap Hilmi lirih.

“Kata siapa!!!” teriak Frans.
Dan
“Dor!!!”
Hilmi mendapat satu tembakan di bagian dada,seketika matanya tertutup. Frans melempar pistolnya ke arah Hilmi dan kembali mendekat ke arah Celine. Sementara itu air mata Celine mengalir deras ketika mendengar bunyi tembakan tersebut.
“Semuanya sudah berakhir Celine.” kata Frans.

“Belum!” teriak Hilmi.
Hilmi menggapai pistol didekatnya lalu menembaki Frans beberapa kali hingga Frans jatuh ke lantai. Lalu dengan susah payah Hilmi mencoba berdiri dan berjalan ke arah Celine. Lalu di lepaskanlah tali yang mengikat tubuh Celine. Saat itu juga Celine memeluk erat tubuh Hilmi yang penuh darah itu,tapi Hilmi jatuh karena terluka parah dan mulai lemas.
“Kamu harus bertahan mi,kita ke rumah sakit ya. Kita ke rumah sakit sekarang.” kata Celine.

“Gak perlu,kamu disini aja temani aku… Jangan pergi.” ucap Hilmi lirih.
Celine memegang tangan Hilmi,perlahan tangan itu mulai dingin.
“Aku sayang kamu.” ucap Hilmi.
Celine tersenyum.
“Aku juga.” kata Celine.
Mata Hilmi tertutup,jantungnya berhenti berdetak,dia meninggal. Celine kembali memeluk Hilmi erat,air matanya tak terbendung lagi.
“Line,Celine…” panggil Frans.
Celine menghampiri Frans yang tergeletak di lantai.
“Kenapa semuanya jadi kaya gini sih Frans?” tanya Celine.

“Maaf.” kata Frans.

“Kenapa kau lakukan ini? Di hari specialmu pula lagi.” kata Celine.
Frans terkejut mendengar kata Celine tersebut.
“Kau masih saja mengingatnya,bahkan setelah semua yang kulakukan.” kata Frans.

“Tentu,Hari ini adalah tanggal 12 bulan di bulan juni. Selamat Ulang tahun Frans.” kata Celine.
Frans tersenyum mendengarnya.
“Dingin line,peluk aku line,aku mohon.” ucap Frans dengan menggigil.
Celine memeluk Frans,sampai akhirnya Franspun menutup mata,dia meninggal dunia.
Selesai.
“Rasa suka yang sampai membuat orang lain terluka itu bukan cinta namanya. Cinta seharusnya membuat semua pihak bahagia.”